Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Stimulasi Dini pada Anak Jadi Fokus, Program SPRING Satukan Kader, Orang Tua dan Pemerintah

Khafifah Arini Putri • Minggu, 1 Maret 2026 | 11:15 WIB

Salah satu kader Program SPRING sedang menjelaskan tentang tumbuh kembang anak melalui SIPADI di PKD Desa Sumingkir, Kabupaten Tegal.
Salah satu kader Program SPRING sedang menjelaskan tentang tumbuh kembang anak melalui SIPADI di PKD Desa Sumingkir, Kabupaten Tegal.

RADARSEMARANG.ID, Tegal - Pos Kesehatan Desa (PKD) Sumingkir, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, kini tak lagi sekadar tempat penimbangan balita dan pemberian vitamin. Sejak hadirnya Program SPRING (Early Stimulation in Primary Health Service Integration), suasana PKD berubah lebih hidup dengan kelas-kelas stimulasi anak usia 0–6 tahun.

Program SPRING merupakan kolaborasi Tanoto Foundation bersama Pemerintah Kabupaten Tegal untuk memperkuat tumbuh kembang anak pada masa golden age. Fokusnya bukan hanya pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak, bahasa, motorik, sosial, dan emosi anak sejak dini.

Secara konsep, Program SPRING ini selaras dengan Integrasi Layanan Primer (ILP). Artinya, layanan kesehatan dasar seperti penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, dan pemberian vitamin kini dilengkapi dengan kelas stimulasi dan edukasi pengasuhan. Jadi, posyandu tidak hanya memantau fisik anak, tetapi juga aktif mendorong perkembangan kecerdasan dan karakter anak.

Mengawali Program SPRING, para kader yang merupakan perwakilan dari posyandu dan PKD mendapatkan pelatihan dari Tanoto Foundation pada akhir 2025 lalu. Tugas mereka ialah menularkan ilmu yang didapatkan kepada kader lain dan para orang tua di Desa Sumingkir dalam mengawal tumbuh kembang anak pada usia dini 0–6 tahun.

Sabtu pagi (14/2), usai kelas 5–6 tahun berakhir, ruangan PKD yang semula dipenuhi tawa anak-anak saat bermain puzzle dan belajar mengenal huruf berubah menjadi forum diskusi lintas sektor. Kepala Desa Sumingkir, Khasan Ali, S.T., duduk bersama Bidan Desa Siti Mafruroh, para kader SPRING, tokoh masyarakat, perwakilan puskesmas, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, dan tim Tanoto Foundation.

Pertemuan itu membahas arah pengembangan Program SPRING ke depan di Desa Sumingkir sekaligus evaluasi pelaksanaan yang telah berjalan sejak Januari 2026.

Kepala Desa Sumingkir, Khasan Ali, menegaskan dukungannya terhadap program tersebut. Menurutnya, Program SPRING melengkapi layanan kesehatan desa yang selama ini lebih fokus pada fisik dan pencegahan stunting. Menurutnya, stimulasi dan pengasuhan anak usia dini merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak awal kehidupan.

Ia membeberkan bahwa hasil awalnya sudah terlihat: anak-anak menjadi lebih aktif dan percaya diri, sementara orang tua lebih memahami pola pengasuhan yang tepat.

“Kalau dulu lebih ke tinggi badan, berat badan. Sekarang ditambah stimulasi perkembangan otak. Ini penting sekali karena usia 0 sampai 6 tahun adalah masa emas,” ujarnya.

Khasan Ali menyebut pihaknya telah mengalokasikan hampir Rp 100 juta anggaran kesehatan tahun 2026 dari dana desa. Anggaran itu mencakup operasional Posyandu berbasis ILP, pelayanan kesehatan dasar, serta untuk Program SPRING.

“Kader ini pejuang. Kita dorong secara moral supaya terus berbuat baik untuk masa depan anak-anak desa,” bebernya.

Sementara itu, Bidan Desa Sumingkir sekaligus Koordinator Program SPRING, Siti Mafruroh, menjelaskan pentingnya stimulasi sejak dini. Menurutnya, selama ini banyak orang tua hanya memperhatikan pertumbuhan fisik, padahal perkembangan psikologis dan kemampuan anak sering terabaikan.

“Kalau tidak diberi stimulasi, perkembangan anak bisa berbeda. Padahal 90 persen perkembangan otak terjadi sebelum usia lima tahun,” jelasnya.

Di PKD Sumingkir, kelas stimulasi dibagi berdasarkan kelompok usia. Senin untuk usia 0–2 tahun, Rabu untuk 2–4 tahun, dan Sabtu untuk 4–6 tahun. Setiap kelas diikuti sekitar 12 anak beserta orang tuanya sebagai percontohan awal.

Anak-anak belajar sambil bermain. Usia 0–1 tahun difokuskan pada interaksi dan respons sensorik. Usia 2–3 tahun mulai dikenalkan warna, gerak, dan komunikasi. Sementara itu, usia 5–6 tahun sudah mulai latihan membaca, berhitung sederhana, serta penguatan kontrol diri.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Kesehatan Anak dan Remaja Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, Yuda Ayu Timorini, menyebut program ini sangat bermanfaat karena memperkuat kapasitas kader dalam melakukan stimulasi dan deteksi dini tumbuh kembang anak.

“Anak yang mendapatkan stimulasi dengan yang tidak, perkembangannya pasti berbeda. Kebutuhan dasar anak itu asah, asih, dan asuh. Stimulasi ini bagian dari asah yang sangat penting,” ujarnya.

Menurutnya, SPRING selaras dengan program peningkatan kapasitas kader yang selama ini dijalankan dinas, meski dengan keterbatasan anggaran dan jumlah kader yang mencapai lebih dari 7.000 orang di Kabupaten Tegal. Pihaknya pun berharap Program SPRING di Desa Sumingkir ini ke depan bisa diadopsi wilayah lain, sehingga pertumbuhan anak usia dini menjadi perhatian seluruh orang tua di Kabupaten Tegal.

“Harapannya nanti Program SPRING ini bisa diadopsi di desa lain, bahkan seluruh desa di Kabupaten Tegal,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, hadir pula tokoh masyarakat, yakni Ustadz Muhdori. Ia turut memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya stimulasi dini pada anak. Menurutnya, perkembangan setiap anak berbeda-beda. Perkembangan zaman juga turut memengaruhi pola pengasuhan orang tua dan tumbuh kembang anak.

Karena itu, kata dia, Program SPRING menjadi titik awal perubahan di Desa Sumingkir agar para orang tua lebih sadar terhadap perkembangan anaknya. Ia biasanya memberikan edukasi kepada masyarakat ketika ada perkumpulan warga. Dalam acara itu, disisipkan penyuluhan tentang stimulasi pada anak.

“Kita mendidik anak-anak usia 0–6 tahun sampai remaja itu penting dan harus diperhatikan. Sebelum mendidik anak orang lain, khususnya bagi para kader, maka kita harus mendidik anak kita dahulu dengan baik,” ungkapnya.

Pihaknya menyebut, bukan hanya sisi akademis saja yang diajarkan, melainkan juga perilaku dan akhlak pada anak perlu diperhatikan.

“Yang penting tata krama. Kalau pintar, tapi tak punya tata krama, bisa menghancurkan diri kita sendiri,” akunya.

Terpisah, Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, menegaskan Program SPRING ini dirancang untuk memperkuat peran keluarga dan lingkungan sekitar sebagai fondasi utama tumbuh kembang anak.

Ia menjelaskan, pendekatan yang digunakan dalam Program SPRING tidak hanya menitikberatkan pada aspek kesehatan dan gizi, tetapi juga pada penguatan pola asuh, stimulasi sejak dini, serta penciptaan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak.

“Tanoto Foundation mendukung penguatan peran keluarga dan komunitas sebagai fondasi utama tumbuh kembang anak. Melalui pendekatan yang holistik dan berbasis bukti, Program SPRING melengkapi upaya peningkatan layanan kesehatan dan gizi dengan penguatan pola asuh, stimulasi dini, serta lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak. Investasi pada periode awal kehidupan kami yakini memberi dampak jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan,” ungkapnya.

Anang juga menyoroti kuatnya kolaborasi lintas sektor di Desa Sumingkir. Ia melihat keterlibatan pemerintah daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, hingga tokoh masyarakat dan tokoh agama menjadi kunci agar perubahan perilaku pengasuhan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Di Desa Sumingkir, kami melihat kuatnya kerja sama lintas sektor yang membuat perubahan perilaku lebih mungkin bertahan. Keterlibatan pemerintah daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama, membentuk ekosistem yang saling menguatkan. Kami berharap praktik baik yang tumbuh dari proses ini dapat terus dirawat, kemudian diintegrasikan ke dalam sistem dan kebijakan lokal agar selaras dengan agenda ILP. Tanoto Foundation hadir sebagai mitra yang mendukung proses kolaboratif tersebut,” tegasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#perkembangan otak #layanan kesehatan #pencegahan stunting #tumbuh kembang anak #stimulasi anak #bidan desa #Kabupaten Tegal #integrasi layanan primer #Desa Sumingkir #tanoto foundation