RADARSEMARANG.ID - Mendengar nama Stasiun Balapulang mungkin terdengar asing untuk sebagian besar orang.
Namun Stasiun yang pernah beroperasi di wilayah selatan Kabupaten Tegal ini pernah menjadi stasiun penting pada era kolonial.
Bahkan pernah menjadi jalur ujung dari rute yang dimulai dari Stasiun Tegal yang saat itu dikelola perusahaan swasta Belanda.
Nama stasiun ini diambil dari nama kecamatan yang terdapat di Kabupaten Tegal yaitu Balapulang.
Stasiun Balapulang sendiri dioperasikan oleh perusahaan Javasche Spoorweg Maatschappij (JSM) pada tahun 1886.
Saat itu dibangun sebagai tujuan akhir dari jalur KA Tegal - Slawi – Balapulang yang dikelola JSM.
Namun pada tahun 1892, perusahaan ini mengalami kerugian dan menjual jalur beserta asetnya ke perusahaan lain yaitu Semarang-Cheribon Stoomtram Maatscappij (SCS).
Pasca diambil alih SCS, jalur ini diubah menjadi jalur trem dan mulai beroperasi tahun 1895 untuk angkutan penumpang.
Pada tahun 1898, terdapat tiga kali perjalanan trem pergi-pulang yang melintas Stasiun Slawi dalam lintas Tegal – Balapulang.
Adapun stasiun dan halte yang dilewati seperti Stasiun Tegal (TG), Pagongan (PNG), Banjaran (BJN), Kudaile (KDE), Slawi (SLW), Jatiwolo (JWO), Kesuben (KSN), dan Balapulang (BLP).
Selain itu Stasiun Balapulang juga melayani angkutan logistik atau barang seperti hasil bumi Tegal yang melimpah saat itu.
Lokasi stasiun ini berada di sebelah barat pasar Balapulang yang menjadi pusat perekonomian di wilayah itu.
Selain itu didekat stasiun ini juga pernah berdiri pabrik gula Balapulang atau Suikerfabriek Balapoelang.
Stasiun ini awalnya memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus.
Namun kini yang tersisa hanya jalur 2 saja dan saat ini berstatus sebagai stasiun non aktif dan asetnya milik PT kereta Api Indonesia Daop V Purwokerto.
Sehingga sudah tidak ada kereta api yang berhenti dan aktifitas petugas di stasiun ini.
Secara fisik bangunan, masih terlihat jelas seperti loket pembelian karcis, ruangan PPKA/ Kepala Stasiun, dan gudang.
Namun keadaannya kurang terawat dan terlihat beberapa kerusakan pada bangunan bersejarah ini.
Editor : Baskoro Septiadi