Dokter Mufida Ungkap Pengalaman Tak Terlupakan Bergabung dengan PSIS Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Ia dikenal sebagai dokter cantik yang dimiliki PSIS Semarang. Bergabung sejak Juni 2022, banyak tantangan yang dihadapi saat menjadi dokter Tim Mahesa Jenar.

Kenapa tertarik menjadi dokter sepakbola?

Sebenarnya saya senang dengan dunia atlet. Saat PSIS Semarang membutuhkan dokter saya mendaftar. Karena menjadi dokter bagi pemain sepak bola tentu sangat menantang. Berbeda dengan ketika menjadi dokter di rumah sakit, klinik, atau puskesmas yang sudah pernah saya rasakan.

Lalu persiapan apa saat bergabung di tim Mahesa Jenar?

Jelas pertama mental. Dan tentu saya butuh adaptasi lagi. Karena peralihan dari rumah sakit, klinik, dan puskesmas ke dunia sepak bola sangat berbeda. Di rumah sakit kita menangani pasien yang memang membutuhkan kita.

Tapi disini kita merawat pasien sehat setiap hari. Kemudian maintenance kesehatan para pemain. Harus tahu juga riwayat penyakit dan cedera setiap pemain. Kami tim kesehatan harus followup, kita check up setiap hari. Misalnya ada radang tenggorokan, sakit perut, diare, flu, dan sebagainya.

Baca juga:  Dibangun Sejak Zaman Belanda, Lapas Wanita Bulu akan Direlokasi ke Gunungpati

Menjadi tim dokter di lapangan harus cekatan dan tanpa alat bantu lengkap harus bisa mendiagnosa. Jadi tangan dan otak digunakan untuk mendiagnosa pertama kali, apakah pemain bisa lanjut bertanding atau tidak.

Tantangan apa yang dirasakan?

Saat ada pemain cedera, kita harus cekatan untuk mendiagnosa secara cepat. Itu menurut saya tantangan besar yang saya alami. Saat menangani pemain cedera, kita dikejar waktu karena pertandingan otomatis akan berhenti.  Pemeriksaan harus cepat dan harus tahu diagnosanya pemain. Penanganan yang tepat apa, dan saya harus bisa memastikan apakah pemain lanjut atau tidak. Kita kasih kode ke coach kemudian respon satu sampai dua menit.

Biasanya capek ketika ketika mendekati pertanding ke luar kota. Harus menyiapkan dua koper perlengkapan dan obat-obatan. Saya harus handle sendiri untuk menginfus pasien, mendiagnosa, menjahit luka, memberikan obat untuk pemain.

Baca juga:  PSIS Perbaiki Possession, Pressing dan Transisi

Apa kesan yang tidak terlupakan?

Saat pertama kali di lapangan, tangan sempat kaku sampai 10 menit. Takut salah saat ada pemain cidera dan harus cepat lari ke lapangan. Tetapi setelah itu, Alhamdulillah semua berjalan lancar dan sekarang mulai enjoy.

Sempat takut juga kulit tidak sehat karena kena UVA dan UVB. Karena harus panas-panasan. Ya sekarang jadi lebih kenceng perawatan. Biasanya saat menemani latihan pakai kacamata, topi, dan jaket panjang.

Suka duka menjadi dokter sepak bola?

Senangnya banyak banget. Diluar ekspektasi. Namanya kerja pasti mencari rezeki dan disini hasilnya lebih dari di tempat lain. Kedua, akhirnya bisa terjun ke dunia atlet. Ketiga, orang-orangnya baik, banyak teman-teman dan bisa seperti keluarga. Bergabung di PSIS Semarang bisa kerja sambil traveling, bisa ke luar kota. Tapi ya tanggung jawab lebih berat.

Baca juga:  Tewasnya Pegawai Bapenda Semarang, Polisi Selidiki Motif Dugaan Korupsi hingga Asmara

Moment sedih kalau pas jadwal padat. Waktu untuk kumpul bareng keluarga berkurang. Apalagi habis bertanding dari luar kota. Jika orang mendapat jatah libur, saya justru bertanggung jawab follow up pemain yang cedera dan harus ke rumah sakit untuk kontrol ke dokter ortopedi agar kembali fit. (kap/fth)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya