Diharapkan Jadi Guru Agama, Takdir Membawa pada Dunia Bola

Imran Nahumarury, Legenda Persija yang Kini Asisten Pelatih PSIS Semarang

Imran Nahumarury ketika mendampingi Dragan Djukanovic sebagai Asisten Pelatih PSIS. (Baskoro Septiadi/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.IDPernah mendengar Desa Tulehu? Bagi pecinta sepak bola pasti tidak asing dengan nama tersebut. Ya salah satu daerah nan jauh di timur Indonesia ini memang terkenal menjadi salah satu pemasok pemain sepak bola berbakat di Indonesia.

Lebih tepatnya berada di Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Dinobatkan sebagai ‘kampung sepak bola’, membuat banyak anak Tulehu  yang akhirnya menjadi pesepak bola besar di Indonesia. Seperti Ramdani Lestaluhu, Alfin Tuasalamony, Rizky Pellu, Abduh Lestaluhu, Hendra Bayauw dan masih banyak lagi.  Termasuk pula di dalamnya Imran Nahumarury. Sang legenda Persija yang kini menjadi Asisten Pelatih PSIS Semarang.

Awalnya Imran mengaku tidak pernah terpikir menjadi seorang pesepak bola. Bungsu dari tujuh bersaudara ini diharapkan menjadi guru agama. Alasannya, semua kakaknya telah berkarir di bidang umum, dan ia diminta menjadi penyeimbang dengan belajar agama. Ia pun mengikuti arahan masuk ke sekolah agama. “Saya memang sekolah di madrasah. Setelah itu lanjut ke tsanawiyah. Nah saat kelas dua inilah momen saya bertemu dengan takdir saya menjadi pesepak bola,” ujarnya.

Sebagai anak Tulehu, Imran pun tertarik dengan sepak bola. Ia bergabung dalam tim sepak bola Tulehu. Pada saat kelas dua MTs, klub yang ia bela mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi ketika tim Maluku mencari anggota untuk dibawa ke Popnas Bandung. Siapa sangka Imran ikut terpilih masuk tim Maluku. “Performa saya di Popnas ini ternyata berhasil menarik perhatian talent scout dari Sekolah Ragunan. Tentu saja saya senang sekali. Siapa yang tidak ingin masuk ke sana yang notabene sekolah pemain besar seperti Kurniawan Dwi Yulianto. Singkat cerita akhirnya saya bergabung dengan mereka dan belajar sepak bola di sana,” ujarnya.

Penampilannya di Ragunan kian gemilang. Skill-nya kian terasah. Hal ini yang membuatnya dapat bergabung dengan Timnas Baretti. Ia dikirim ke Italia untuk belajar sepak bola pada tahun 1995 sampai 1996. “Di Italia ini saya mulai diajarkan menjadi pemain serbabisa. Tidak hanya di posisi gelandang saja yang menjadi pos awal saya, namun juga menjadi gelandang sayap dan bek sayap,” ujarnya.

Pulang dari Italia, Imran mendapat tawaran dari klub profesional pertamanya. PSB Bogor berhasil memboyongnya selama dua musim mulai dari 1996 sampai 1998. Selanjutnya pada 1998-2000 ia pindah ke Persikota Tangerang sebelum akhirnya berlabuh ke Persija Jakarta. “Di Persija alhamdulillah saya bisa merasakan menjadi juara Liga Indonesia pada tahun 2001. Selain itu kita bisa juga juara Brunei Invitation Cup dua tahun berturut-turut pada 2000 dan 2001. Di sinilah saya merasa karir saya berada di puncak,” katanya.

Selanjutnya Imran bergabung ke Persib Bandung selama satu musim 2004-2005. Persita Tangerang musim 2005-2006, Persikabo Bogor 2006-2007 dan pensiun usai memperkuat PSSB Bireun pada musim 2007-2008. “Singkat cerita setelah pensiun saya alih profesi ke dunia entertaiment. Kebetulan saya lolos audisi menjadi pembawa acara sepak bola pada ESPN di Net TV. Saya bertahan empat tahun,” katanya.

Malang melintang di layar kaca dengan kemampuannya menyampaikan berita sepak bola yang luar biasa, membuat stasiun televisi luar negeri Bein Sport merekrutnya.

Imran akhirnya kembali menekuni sepakbola. Didorong oleh rekan sejawatnya, Yeyen Tumena yang saat itu menjadi ketua ASIOP, ia pun mantap mengikuti kursus kepelatihan. “Saya diam-diam memutuskan ikut kursus kepelatihan AFC. Mulai dari C ke B hingga ke A. Alhamdulillahnya saya selalu dapat rekomendasi. Jadi saya bisa menyelesaikan kursus lisensi sampai A ini hanya butuh waktu tiga tahun saja,” ujarnya.

Setelah mendapatkan lisensi A-nya, ia sempat mendapat banyak tawaran untuk bergabung dengan Persija Jakarta, Persita Tangerang dan PSIS Semarang dalam tim kepelatihan mereka. Namun PSIS lah yang kemudian ia pilih sebagai klub pertamanya menjalani debut dalam karir kepelatihannya secara profesional.

Selama di Semarang ia mengaku sangat bahagia. Ia menyukai atmosfer yang terjalin di tim PSIS. Kerja sama antara tim, manajemen, suporter terjalin begitu erat. Hal tersebut membuatnya betah. Dan dengan kesempatan tersebut ia bertekad akan terus belajar sekaligus memberikan performa terbaiknya. (*/lis/bas)





Tinggalkan Balasan