Harap-Harap Cemas Tunggu Kepastian Kompetisi

564
Kompetisi Liga 1 terancam dihentikan secara permanen jika pandemi korona tidak membaik sampai 29 Mei mendatang. (Baskoro Septiadi/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Lanjutan kompetisi Liga 1 hingga saat ini belum menemui titik terang. Pasalnya hingga akhir April, kondisi Indonesia belum menunjukan tren penurunan jumlah persebaran pandemi korona.

CEO PSIS Semarang sekaligus anggota Exco PSSI Yoyok Sukawi menuturkan PSSI sendiri telah mengelar rapat terbatas pada Kamis (23/4/2020) lalu, guna membahas nasib sepakbola Indonesia saat ini.

Pasalnya induk sepakbola Indonesia tersebut melihat pemerintah mulai menunda berbagai event olahraga. Termasuk yang terbaru adalah Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua yang ditunda hingga Oktober 2021.

Maka dari itu, bukan tidak mungkin Liga 1 menjadi ajang selanjutnya yang ditunda. “Kita kemarin sudah rapat. Mengenai kemungkinan apa saja yang akan dihadapi. Namun semua kembali lagi ke pemerintah. Sebab mereka yang bisa memutuskan semuanya,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan batas waktu force majeur Liga 1 dapat digelar kembali jatuh pada bulan Juli mendatang. Jika asumsi kebutuhan latihan klub selama 1 bulan, maka pada bulan Juni semua aktivitas klub harus mulai normal.

Namun jika kondisi yang ada tidak kunjung membaik sampai 29 Mei, maka sudah dapat dipastikan kompetisi berhenti permanen. Mengingat waktu bagi klub untuk persiapan sangat terbatas. “Dan kalaupun Liga 1 mundur lagi lebih dari Juli tidak bisa. Soalnya tidak cukup waktu menggelar kompetisi sampai akhir tahun,” lanjutnya.

Sementara itu Asisten Pelatih PSIS, Imran Nahumarury mengaku pesimistis Liga 1 dapat digelar kembali. Dirinya menjelaskan menurut video pemberitahuan oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino kompetisi dapat berjalan kembali jika sudah ada kepastian kondisi normal 100 persen.

Sehingga jika melihat kondisi di Indonesia saat ini, sangat sulit melanjutkan liga dalam waktu dekat.”Saya sih tidak yakin bisa lanjut. Tapi kita tunggu saja keputusan pemerintah,” ujarnya.

Meskipun begitu pihaknya tetap berharap kompetisi dapat tetap berjalan. Namun jika memang penghentian permanen merupakan yang terbaik ia tetap mendukung. Mengingat kesehatan pemain tetap menjadi yang utama.”Kan yang kita berhadapan dengan yang tidak terlihat. Maka daripada membahayakan untuk semua lebih baik berjaga-jaga,” pungkasnya. (akm/bas)





Tinggalkan Balasan