PON Ditunda, Aturan Pembatasan Usia Bikin Galau

431
Para pemain tim sepakbola Jateng yang dipersiapkan menghadapi PON Papua tengah khawatir terkait regulasi pembatasan usia. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Berbagai cabang olahraga tengah khawatir terkait batasan usia atlet untuk PON Papua. Pasalnya jika mengacu pada aturan, banyak atlet yang tidak memenuhi prasyarat umur yang ditentukan jika ajang olahraga empat tahunan tersebut digelar tahun depan.

Ketua Asosiasi Provinsi PSSI Jawa Tengah (Asprov) Jateng, Edi Sayudi menuturkan tiap cabor memiliki batas usia bagi atlet untuk mengikuti PON. Untuk cabor sepakbola sendiri pihaknya menjelaskan memiliki batas usia atlet yakni 23 tahun.

Jika PON ditunda tahun depan, ada sekitar delapan pemain tidak akan memenuhi kualifikasi yang ditentukan mengingat usia mereka menjadi 24 tahun tahun depan. “Itu yang sedang kami pikirkan. Bagaimana kalau aturan tidak berubah. Kita bisa pusing sendiri mencari tujuh sampai delapan orang untuk mengantikan pemain yang sudah tidak masuk kualifikasi,” ujarnya.

Dirinya mengaku saat ini tengah menunggu regulasi lanjutan dari KONI Jateng dan PSSI Pusat. Apakah terjadi perubahan atau tetap pada sebelumnya. Hanya saja pihaknya mengingatkan akan adanya potensi masalah jika aturan tidak berubah.

Mengingat bukan hanya sepakbola saja. Cabor lain pun mengalami hal yang sama. Dan hal tersebut akan menyulitkan mencari atlet pengganti mengingat seleksi atlet terhambat akibat pandemi.”Yang pasti kita inginnya ada perubahan regulasi. Tapi ya semua tergantung kembali ke federasi yang berwenang seperti apa,” ujarnya.

Sementara itu Wakil Ketua II KONI Jateng, Sudarsono menuturkan banyak pekerjaan rumah yang bermunculan akibat penundaan PON. Antara lain mengenai regulasi lanjutan hingga soal anggaran dan masih banyak lainnya.

Guna menyelesaikan hal tersebut, pihaknya mengaku tengah rutin melaksanakan koordinasi jarak jauh dengan anggota KONI Jateng lainnya. Sehingga dapat segera memberikan kepastian kepada para cabor terkait teknis pelaksanaan PON yang tertunda.”Kita masih rutin komunikasi untuk membahas bagaimana solusi yang terbaik sembari menunggu instruksi lanjutan dari KONI Pusat,” katanya.

Meskipun banyak tugas yang musti diselesaikan pilihaknya mengaku tetap menghargai keputusan penundaan yang dilakukan pemerintah. Karena bagaimanapun kesehatan menjadi yang utama.

Pihaknya menyadari lebih baik ajang olahraga dilakukan setelah pandemi berakhir. Guna menjamin keselamatan panitia, official, atlet, pengprov cabor dan para penonton itu sendiri.”Ya kami tetap berterimakasih. Setidaknya kita bisa persiapan jauh-jauh hari setelah tau PON ditunda,” pungkasnya. (akm/bas)

 





Tinggalkan Balasan