Dimeriahkan Pemecahan Rekor Dunia Maestro Saxophonis

313
MENUJU REKOR DUNIA: Saxophonis Indonesia Hary Wisnu Yuniarta akan memecahkan rekor dunia memainkan alat musik selama 24 jam mulai dini hari tadi. (MUKHTAR LUTFI/Radar Semarang)
 MENUJU REKOR DUNIA: Saxophonis Indonesia Hary Wisnu Yuniarta akan memecahkan rekor dunia memainkan alat musik selama 24 jam mulai dini hari tadi. (MUKHTAR LUTFI/Radar Semarang)

MENUJU REKOR DUNIA: Saxophonis Indonesia Hary Wisnu Yuniarta akan memecahkan rekor dunia memainkan alat musik selama 24 jam mulai dini hari tadi. (MUKHTAR LUTFI/Radar Semarang)

DI ANTARA kemerahan pelaksanaan Borobudur 10K, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendorong terciptanya rekor dunia memainkan 300 lagu jazz nonstop selama 24 jam oleh Maestro Saxophonis Indonesia Hary Wisnu Yuniarta.

Hary Wisnu akan memecahkan dua rekor dunia sekaligus yakni memainkan 300 lagu jazz nonstop dan 13 alat musik tiup. Rencananya, pemecahan rekor ini akan dicatat dua badan resmi pencatat rekor dunia yaitu Record Holders Republic yang bermarkas di London, Inggris dan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) Semarang. Hal ini akan dilakukan di kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Sabtu (15/11) dini hari pukul 01.00.

Sebagai pembukaan, Hary Wisnu akan melakukan upacara pradaksina yaitu mengelilingi Candi Borobudur searah jarum sambil memainkan Piccollo. Ia akan memainkan 80 lagu selama kurang lebih empat jam.

Selama 24 jam, Hary akan memainkan 300 lagu jazz dengan instrumen tiup seperti english horn, oboe, clarinet, flute, alto flute, piccollo, sopranino block flute, soprano block flute, alto block flute, soprano saxophone , baby saxophone, alto saxophone, dan tenor saxophone.

Dari ke-13 alat musik tiup, menurut Hary yang paling suit adalah oboe dan english horn. “English horn adalah alat tiup kedua yang paling susah setelah oboe. Alat ini menggunakan double reed namun ukurannya lebih besar. English horn juga lebih panjang dari oboe sehingga range atau registernya lebih rendah dari oboe. Pitch tidak sesulit oboe. English horn bernuansa Arabic dan Vintage,” jelas Hary.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jateng Prasetyo Aribowo mengatakan untuk mengembangkan Candi Borobudur menjadi pariwisata dunia maka pemerintah memperbanyak kegiatan festival dan sport tourism dengan melibatkan banyak pihak. “Pengembangan Borobudur tidak bisa sendiri tapi harus kolaborasi dengan berbagai pihak. Karena itu kami menggelar banyak acara seperti festival dan interhash. Festival dan sport tourism,” kata Prasetyo. (vie/smu)