RADARSEMARANG.ID - Di panggung bulutangkis dunia, tak semua pemain mendapat kesempatan menutup tahun di World Tour Finals.
Turnamen itu ibarat ruang tamu para petarung, tempat hanya delapan yang terbaik dipersilakan masuk.
Dan tahun ini, salah satu kursi itu diisi oleh gadis muda Indonesia bernama Putri Kusuma Wardani. Perjalanannya tidak mudah.
Namun justru karena itulah, langkahnya terasa lebih berarti. Dunia menoleh, Indonesia berbisik penuh harap: Mampukah Putri melangkah lebih jauh?
Di balik layar, pelatihnya, Imam Tohari, jujur berbicara. Bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengasah.
“Bola atas, smash, chop… semua harus dipertajam,” katanya.
Ia tahu Putri punya bakat besar, namun masih ada celah kecil yang harus ditutup cepat. Reli penting yang tiba-tiba mati sendiri, sesuatu yang tidak boleh terjadi di level elite. Di tingkat atas, satu bola bisa menentukan semuanya.
Tapi sang pelatih juga sadar: kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
“Ini kesempatan, Put. Kamu pasti bertemu pemain ranking 1, 2, 3. Justru itu modal. Di beregu kamu bisa main tiga kali, itu pengalaman besar untuk tahun depan.”
Putri tahu, lawan yang menanti bukan pemain biasa. Ada tujuh raksasa bulutangkis dari berbagai negara.
Nama yang selama ini sulit ditembus. Bahkan terakhir melawan An Se-young di Australia, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Namun di balik tekanan itu, ada keyakinan kecil yang tumbuh. Sebuah pesan sederhana dari sang pelatih yaitu kesempatan tidak datang dua kali. Manfaatkan sekarang.
World Tour Finals bukan hanya tentang juara. Bagi Putri KW, ini adalah mungkin titik loncatan atau titik balik.
Saat mimpi besar bertemu ketakukan kecil. Saat seorang gadis mudah Indonesia mencoba menanta para ratu dunia. (dan)
Editor : Baskoro Septiadi