Titi –sapaan akrabnya- awalnya hanya coba-coba untuk melamar di salah satu kafe tersebut. Dengan melihat tutorial di Youtube, ia memberanikan diri untuk mendaftar sebagai seorang barista. Selama itu juga dirinya mendapatkan training dari para seniornya serta bisa mengetahui dasar-dasar dari ilmu barista.
“Aku ya awalnya tetap learning by doing gitu. Kalau tidak mandiri belajar sendiri, nanti malah ketergantungan sama yang lainnya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Tak hanya itu, mantan penyiar radio ini seringkali meminta untuk mengajarkan beberapa hal yang tidak dimengerti kepada seniornya sepulang dari kafe. Menurutnya, tidak apa-apa untuk mengorbankan waktu terlebih dahulu, setelah itu mendapatkan hasilnya. Daripada harus bergantung pada orang lain terus-menerus.
“Tetap harus sharing dengan teman-teman seprofesi. Karena itu bisa membuat kita belajar berbagai hal, dan terkadang mendapatkan pengetahuan yang belum kita ketahui. Aku bersyukur sih bisa memiliki teman-teman yang bisa diajak ngobrol bareng,” ujar gadis 24 tahun ini.
Perjalanannya sebagai seorang barista tidak selalu mulus. Sering kali ia harus mengeluarkan tenaga ekstra, karena harus mendapatkan jatah shif hingga tengah malam. Namun semua itu bisa ia tutupi ketika mendapatkan pelanggan yang puas dengan kopi buatannya. (nun/aro) Editor : Agus AP