Ember kecil warna biru telah disiapkan. Airnya tak penuh. Yang penting cukup untuk membasuh kaki. Handuk putih juga siap untuk mengeringkan kaki. Para orang tua berjajar duduk di kursi warna merah. Sementara, anak-anak kisaran usia 8-12 tahun duduk bersimpuh di lantai menghadap orang tua masing-masing.
Ada delapan anak, dan enam orang tua. Ada yang lengkap bersama bapak dan ibu. Ada pula hanya bapak, dan hanya ibu. Tidak semua warga keturunan Thionghoa. Ada juga umat nasrani dan muslim. Mereka akan melakukan tradisi bakti basuh kaki.
Meski zaman sudah berkembang, tradisi perayaan tahun baru kalender Tiongkok atau Imlek selalu dilakukan. Beberapa di antaranya sembahyang, serbawarna merah yang dilambangkan membawa hoki, membersihkan rumah, membagikan angpao, hingga menyediakan kue keranjang. Namun ada satu tradisi yang memiliki makna paling mendalam, yaitu bakti basuh kaki. Dan ini, sudah mulai ditinggalkan.
Untuk melestarikan tradisi ini, masyarakat Thionghoa dari Perkumpulan Sosial dan Budaya Boen Hian Tong Kota Semarang kembali mengadakan tradisi ini. Acaranya, digelar di Gedung Rasa Dharma, Gang Pinggir, kawasan Pecinan, Semarang, Kamis (11/2/2021). Tradisi ini digelar sehari sebelum tahun baru Imlek 2572.
Ketua Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong (Rasa Dharma) Harjanto Kusuma Halim menjelaskan, betapa dalamnya makna tradisi yang mulai terkikis ini. Ia juga memutar sebuah lagu mandarin. Katanya, ini lagu kenangan bersama ibunya. "Setiap kali saya kangen mama, selalu saya putar lagu ini," ujarnya.
Sembari mengenang, ia menetaskan air mata. Namun tetap tegar. Ia pandai mengatur napas. Lalu kembali memberikan sambutan. Halim mengungkapkan, sangat beruntung anak-anak yang masih bisa membasuh kaki orang tua. Nikmat luar biasa masih diberi kesempatan untuk berbakti.
Menurut Halim, meski terlihat sederhana, tapi memiliki makna yang dalam. Sebelum membasuh kaki, pengarah membacakan puisi tentang orang tua. Semua menangis. Begitu dalam. Seakan semua kesalahan ataupun masalah kepada orang tua yang telah lalu muncul kembali. Tak hanya orang tua dan anak, beberapa orang yang datang juga ikut terharu. Terlihat, keluarga dan anggota Rasa Dharma yang mengikuti secara virtual melalui Zoom juga menangis.
Masih terharu dengan isi puisi, momen yang paling ditunggu dimulai. Prosesi basuh kaki. Para orang tua melepas alas kaki, ada yang pakai sepatu, dan sandal. Tidak sedikit yang sudah keriput. Perlahan kaki direngkuh sang anak. Lalu, dicelupkan ke dalam ember kecil. Dibasuh berkali-kali. Dari punggung kaki, mata kaki, kuku, hingga telapak kaki. Setelah itu, diangkat. Di letakkan di atas paha (duduk bersimpuh) lalu dikeringkan dengan handuk.
Walau sederhana, ini bukan sekadar prosesi basuh kaki biasa. Inilah bukti bakti. Tak ada yang kuasa menahan air mata saat sungkem. Tangis makin tak terbendung ketika mereka saling melontarkan kata maaf. Bergantian. "Mama minta maaf ya nak, kadang suka marah-marah," ucap salah seorang ibu.
Ia hanya mampu berkata demikian, kalah dengan air mata yang mulai menetes. Suaranya menghilang, menangis sesenggukan. Semua kesalahan seakan terlihat. Membangkang, bandel, tak nurut, kasar, bahkan nakal. Semakin membuat hati teriris. Betapa tak berbaktinya pada orang tua.
"Maafin kakak yang belum membahagiakan mama dan papa," kata Lovely sangat tulus. Matanya berkaca-kaca, tak bisa menyembunyikan betapa dalamnya makna tradisi ini.
Prosesi dilanjutkan dengan memberikan teh. Dituangkan dalam gelas kecil warna merah. Memegangnya harus pakai dua tangan, seperti muspa atau sembahyang. Menurut Halim, pemberian teh dilambangkan sebagai rasa penghormatan. Baik anak maupun orang tua harus ingat pentingnya menjaga keharmonisan, dan wujud bakti untuk perubahan menjadi lebih baik.
"Setelah ini harapannya hubungan orang tua anak menjadi lebih baik, tidak hanya pas acara basuh kaki tapi setelahnya juga," harapnya.
Sebagai akhir prosesi, mereka berpelukan erat. Sangat erat. Seakan tak ada sekat. Mencium kening, dan pipi walau air mata masih membasahi. Meski terlihat sepele, hanya membasuh kaki, tapi tak banyak yang mampu melakukan ini. Kebanyakan gengsi atau malu.
Halim melanjutkan, tradisi basuh kaki selalu dilakukan menjelang Imlek. Pihaknya ingin mengembalikan perayaan leluhur ini. Terlebih kini hubungan orang tua anak di zaman milenial terlihat lebih egaliter. Untuk itu, ia memfasilitasi ritual yang sudah ada sejak zaman dulu.
Ia menambahkan, tradisi ini tak hanya elok dilakukan saat Imlek. Tapi cocok untuk hari besar lainnya seperti lebaran, natal, dan perayaan lain. "Siapapun yang lihat pasti meneteskan air mata. Karena ini sangat indah, dan memiliki makna yang dalam," katanya. (ifa/aro) Editor : Agus AP