RADARSEMARANG,ID- Bagi para pecinta sepak bola pasti sudah tidak asing dengan istilah hooligans.
Secara garis besar, hooligans bisa diartikan sebagai mereka yang melakukan kegiatan kriminal di ranah sepak bola.
Atau mengatasnamakan tindakan kriminalnya tersebut atas nama sepakbola.
Mereka biasa melakukan perkelahian, sabotase, pelecehan seksual hingga menjadi bagian dari kelompok radikal ekstrem.
Awal mula kata 'Hooligans' masih belum ditentukan kebenarannya dan masih simpang siur.
Ada yang berpendapat kata awal hooligans berasal dari General Wade, salah satu jenderal perang Inggris pada sekitar tahun 1700 an.
Ada juga yang menyatakan kata hooligan berasal dari nama seorang tukang pukul yang juga pencuri bernama Patrick Hooligan.
Dimasa kini, hooliganisme berkembang karena budaya turun temurun, etika, hingga beralasan hanya ikut ikutan.
Budaya ini bertumbuh subur karena adanya rivalitas antar grup yang biasa terjadi di kancah sepak bola.
Meski lahir di daratan Inggris, hooliganisme turut mewarnai skena sepakbola dunia ketiga.
Alasan negara-negara lain mengikuti jejak Inggris adalah karena fanatisme terhadap klub favoritnya, entah klub kota ataupun timnas negara.
Baca Juga: Waspadai Iran U-17, Inggris U-17 Tak Ingin Jadi 'Korban' Selanjutnya
Pada awal perkembangannya, hooligans identik dengan minuman keras dan narkotika, yang merupakan sumber pendapatannya.
Tetapi di masa kini, banyak dari para hooligan menghindari pemakaian barang barang haram tersebut.
Alasannya, karena mereka sekarang menggeluti olahraga beladiri MMA (seni beladiri campuran).
Dan menjaga kestabilan postur tubuh untuk melakukan arranged fight, yakni pertarungan jarak dekat yang dilakukan sesama supporter.
Arranged fight biasanya dilakukan secara berjanjian di tempat yang sudah ditentukan.
Untuk petarung bisa face to face 1 lawan 1, 5 lawan 5 bahkan hingga 50 lawan 50. Hal tersebut mereka lakukan untuk menjaga nama baik daerah atau klub yang mereka banggakan.
Fenomena hooligans sendiri sekarang terkadang berkonotasi negatif, banyak anggapan masyarakat terhadap kelompok ini.
Mereka diberi stigma perusuh, bahkan dianggap mengajarkan kekerasan dan kebrutalan terhadap generasi baru yang menganggap mereka 'keren'.
Tapi uniknya meskipun regenerasi terus berlanjut, para hooligans di Inggris yang kemungkinan sudah berumur lebih memilih untuk menghindari stadion.
Entah karena di ban oleh Federasi Sepakbola atau karena menganggap modern football bukan sekedar olahraga lagi, tapi bercampur dengan entertainment bahkan politik.
Mereka tetap mendukung klub favoritnya dari luar stadion, kebanyakan mereka melakukan kegiatan nobar dari pub atau bar di daerahnya. (*/bas)
Editor : Baskoro Septiadi