RADARSEMARANG.ID, Semarang - Empat perwakilan Jawa Tengah asal Kota Semarang resmi diperkenalkan kepada publik usai mengikuti ajang Puteri Anak dan Remaja Indonesia 2025 yang digelar di Jakarta oleh DD Organization.
Ajang nasional ini menjadi wadah unjuk prestasi sekaligus pembentukan karakter bagi anak dan remaja perempuan dari berbagai daerah di Indonesia.
Kompetisi tersebut terbagi dalam lima kategori, yakni Puteri Anak Indonesia, Puteri Remaja Indonesia, Puteri Batik Remaja Indonesia, Puteri Batik Cilik Indonesia, dan Indonesia’s Girl.
Dari Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang, empat peserta berhasil mencatatkan prestasi dengan meraih gelar dan atribut di tingkat nasional.
Keempat peserta tersebut diperkenalkan secara resmi dalam press conference di Novotel Semarang, Selasa 24 Desember 2025.
Dalam kesempatan itu, masing-masing perwakilan menyampaikan aspirasi serta visi dan misi yang akan dijalankan selama masa jabatan.
Regional Director Puteri Anak dan Remaja Jawa Tengah, Adelina Damayanti, mengaku bangga atas pencapaian para peserta yang selama ini ia dampingi.
Menurutnya, kerja keras dan proses panjang akhirnya terbayar dengan keberhasilan membawa nama Jawa Tengah di tingkat nasional.
“Saya selaku Regional Director Regional Director Puteri Anak dan Remaja Jawa Tengah, bangga dan berterimakasih atas kerja keras kalian hingga sampai di titik ini. Harapan saya untuk teman-teman ialah sekali menjabat, selamanya menginspirasi," ujarnya, saat ditemui Jawapos Radar Semarang
Salah satu perwakilan berprestasi adalah Nandita Putri Nurkusuma (19), mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
Ia menyandang gelar Indonesia’s Girl Jawa Tengah 2025 sekaligus Indonesia’s Girl Persahabatan 2025. Bagi Nandita, capaian tersebut bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan amanah untuk memperjuangkan suara perempuan di ruang sosial.
“Saat ini perempuan masih kekurangan ruang untuk menyampaikan aspirasinya di ruang sosial. Saya sebagai perempuan juga ingin menyuarakan suara perempuan yang belum tersampaikan secara baik,” kata Nandita.
Perjalanan menuju panggung nasional tidak ia lalui dengan mudah. Nandita mengakui harus mengorbankan banyak hal demi mengikuti seluruh rangkaian kompetisi.
“Hal yang saya korbankan untuk sampai di titik ini tentunya tenaga, waktu, dan pikiran, dan itu sangat menguras mental. Alhamdulillahnya saya berhasil untuk menaklukkan itu semua,” sambungnya.
Cerita perjuangan juga datang dari Alesha Faradiba Alrizal (10), siswi SD Lab School Unnes, yang meraih gelar Batik Cilik Indonesia Runner Up V 2025. Di usianya yang masih belia, Alesha sempat diliputi keraguan, terutama terkait perizinan sekolah.
“Saya awalnya ragu apakah bisa mengikuti kegiatan ini. Tapi ternyata guru-guru sangat mendukung kegiatan yang saya lakukan. Hari ini saya bangga bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak Indonesia,” tutur Alesha.
Sementara itu, Michie Talora Gracia (12) dari SMP YSKI Semarang berhasil menyandang gelar Puteri Anak Pendidikan Jawa Tengah 2025 serta Puteri Batik Cilik Indonesia Presentasi Terbaik 2025.
Michie menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam pelestarian budaya, khususnya batik, dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi generasi muda.
“Saya akan menyebarluaskan penggunaan batik ke platform media sosial lebih luas, dan memberanikan orang-orang untuk memakai batik dengan bangga,” ucap Michie.
Komitmen serupa disampaikan Ivo Ghiina Nareswari (15), siswi SMA Negeri 2 Semarang, yang meraih gelar Puteri Remaja Pendidikan Jawa Tengah 2025 serta Puteri Batik Remaja Indonesia Runner Up 3 2025.
Ivo bertekad mengubah stigma bahwa batik merupakan busana kuno yang hanya dikenakan pada momen tertentu.
“Batik itu tidak kuno. Batik bisa kita modifikasi dan dibuat modern, supaya tidak lagi dicap sebagai sesuatu yang kuno,” ujar Ivo.
Tak hanya soal budaya, Ivo juga merasakan dampak personal dari ajang tersebut.
“Dari ajang kompetisi ini, saya bertemu perempuan-perempuan hebat yang memiliki misi dan visi yang sejalan dengan saya, dan itu memberi dampak positif bagi lingkungan serta budaya Indonesia,” tambahnya.
Selama satu tahun ke depan, keempat perwakilan Jawa Tengah ini berencana menjalankan berbagai program sesuai dengan atribut masing-masing, mulai dari isu pendidikan, pemberdayaan perempuan, penguatan karakter anak dan remaja, hingga pelestarian budaya batik.