Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

IDAI Beri Panduan Penanganan Keracunan MBG, Simak Mengenali Ciri Makanan Basi

Ida Fadilah • Selasa, 30 September 2025 | 12:33 WIB

 

Salah satu menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan keprihatinan atas munculnya kasus keracunan makanan yang dialami sejumlah anak sekolah dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak (UKK ETIA) IDAI, dr. Yogi Prawira, SpA, Subs ETIA(K) menjelaskan sebagian besar kasus keracunan makanan memang tidak berakibat fatal.

Namun, ia menekankan perlunya kewaspadaan karena kasus tertentu dapat berujung pada komplikasi serius.

“Sebagian besar kasus keracunan makanan tidak mematikan, namun pada beberapa kasus diperlukan perawatan di rumah sakit. Keracunan yang berat bisa menyebabkan komplikasi berupa gangguan ginjal, peradangan pada sendi, serta gangguan otak dan saraf,” ungkap dr. Yogi.

Ia memberikan panduan penanganan apabila anak mengalami keracunan. Pertolongan pertama di rumah anak harus beristirahat.

Ia meminta orang tua memastikan anak menghentikan aktivitas agar tubuhnya pulih.

Kemudian, mendorong anak banyak minum, terutama larutan oralit atau air garam, untuk mengganti elektrolit yang hilang.

Selanjutnya, setelah muntah atau diare mereda, berikan makanan ringan seperti bubur, pisang, atau roti.

"Hindari susu, kopi, dan obat anti-diare tanpa resep dokter, karena dapat memperparah kondisi atau menghambat pengeluaran racun," tegasnya.

IDAI menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap makanan yang sudah rusak.

Oleh karenanya, Dr Yogi juga mengajak anak maupun guru, dan orang tua untuk mengenali makanan tidak layak konsumsi.

Hal itu dapat dilihat secara visual yakni tampak perubahan warna, muncul jamur/lendir, atau kemasan menggelembung.

Dari segi bau, ada tanda seperti busuk, tengik, asam, atau bau alkohol akibat fermentasi.

Kemudian dari tekstur, biasanya makanan basi memiliki bentuk melunak, berlendir, kering, atau mengkristal.

Setelah mengetahui ciri makanan tak layak konsumsi, dirinya juga memberikan tips pencegahan keracunan.

IDAI mendorong penerapan pola hidup bersih dan pengolahan makanan yang aman.

Di antaranya, cuci tangan sebelum mengolah dan menyantap makanan; jaga kebersihan alat masak agar tidak terjadi kontaminasi silang; hindari air mentah yang belum diolah.

Sebelum diolah, ia juga mengingatkan agar buah dan sayuran dicuci dengan air mengalir.

"Pisahkan makanan mentah dan matang, gunakan talenan berbeda. Masak dengan suhu tepat, misalnya daging sapi minimal 71°C, ayam 74°C, telur matang sempurna, dan ikan sesuai standar keamanan," bebernya.

Tak kalah penting dari pengolahan, ia juga meminta penyimpanan makanan dilakukan dengan benar dalam wadah tertutup dan segera masukkan ke kulkas.

"Buang makanan kedaluwarsa atau yang sudah berbau tidak sedap," tambahnya lagi.

IDAI berharap panduan ini dapat menjadi perhatian pemerintah, sekolah, dan orang tua agar kasus keracunan makanan pada anak tidak kembali terulang.

Menurutnya, program makan bergizi gratis adalah langkah positif bagi pemenuhan kebutuhan anak. Namun, pengawasan terhadap kualitas makanan harus ditingkatkan agar tidak justru menimbulkan masalah kesehatan.

“Program gizi gratis harus diiringi dengan pengawasan kualitas makanan yang ketat, demi keselamatan dan kesehatan anak-anak kita,” pungkas dr. Yogi. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
#Mbg #Makan Bergizi Gratis #KERACUNAN #IDAI #MAKANAN