RADARSEMARANG.ID, Semarang - Salah satu toko legendaris di Kota Semarang adalah Toko Mainan dan Kembang Api Rajawali.
Dikelola oleh Waras sejak 1990-an, toko ini menjadi salah satu yang paling legendaris dan dicari warga untuk mencari mainan anak-anak maupun kembang api musim libur sekolah tiba.
Waras memulai usahanya dari nol. Berjualan di Pasar Johar pindah ke gang Sedogan, lalu akhirnya menetap di Jalan Pekojan Sekolan Nomor 12 Kota Semarang.
“Dulu dari bawah. Sekarang ya tinggal jalanin. Tapi toko tetap buka, karena ini bukan cuma usaha, tapi sudah jadi sejarah,” ujar Waras yang kini berusia 65 tahun.
Meski zaman sudah berubah dan kebanyakan toko mulai bergeser ke ranah digital, Rajawali masih setia melayani pembeli secara langsung.
Pihaknya juga merambah ke online ada, tapi beda rasanya. Kalau belanja langsung bisa lihat barangnya, pegang, bandingkan. "Online itu kan cuma lihat gambar. Kadang barangnya datang beda,” terang Waras.
Di tengah makin sengitnya persaingan dan maraknya toko online, Rajawali tetap jadi pilihan utama.
Tak hanya karena harganya bersaing dan barangnya lengkap. Tapi juga karena kehangatan, keramahan, dan suasana kekeluargaan yang sulit tergantikan.
Rajawali bukan sekadar toko mainan, melainkan bagian dari kenangan dan cerita masa kecil banyak orang di Kota Semarang. Ia menekankan, kunci keberlangsungan usahanya adalah pelayanan.
“Saya selalu pesan ke karyawan, harus ramah. Pembeli itu senang kalau dilayani dengan hati. Mau barangnya murah atau mahal, kalau pelayanannya enak, orang pasti balik lagi," imbuhnya.
Rajawali kini sudah berkembang. Dari satu toko kecil, kini menjelma jadi tiga cabang di Semarang. Masing-masing dikelola anak-anaknya.
“Yang di Gajah Mada, di Pekojan Sekolan No 1, dan yang Pekojan Sekolan Nomor 12 ini, semua awalnya dari keluarga. Sekarang sudah mandiri, berdiri sendiri-sendiri,” jelasnya.
Di dalam toko, berbagai jenis mainan tertata rapi, dari yang harganya hanya Rp2.700 seperti mobil-mobilan mini, hingga mobil-mobilan besar yang bisa dinaiki anak-anak lengkap dengan remote control seharga lebih dari Rp 2 juta.
“Mainan sekarang itu musiman. Kadang yang laris mobil-mobilan, kadang pistol-pistolan. Kita ikuti tren aja,” kata Fenny, sang menantu yang sudah 15 tahun ikut menjaga toko.
Selain mainan, Rajawali juga menjual kembang api musiman, mulai dari harga Rp 5.000 hingga yang paling mahal bisa menyentuh angka Rp 6 juta.
Meski begitu, kembang api tetap jadi produk sampingan. Fokus utama tetap pada mainan anak.
Banyak pelanggan loyal datang dari luar area pusat kota. Nur, warga Jatingaleh, mengaku langganan sejak anaknya masih kecil hingga kini masuk SMK. “Lengkap, murah, dan dekat. Dulu saya juga kulakan kembang api di sini,” ujarnya.
Ada pula Rofi, guru TK dari Kauman, yang rutin belanja untuk keperluan sekolah. Ia membeli mainan-mainan edukatif seperti miniatur profesi, buah-buahan, alat medis, hingga puzzle.
“Untuk anak-anak itu tidak bisa cuma dijelasin. Harus lihat dan pegang langsung,” ujarnya penuh semangat. (fgr/fth)
Editor : Baskoro Septiadi