RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Pada 2024 mendatang Indonesia menuju capaian tahun keemasan. Salah satu persoalannya yakni mewujudkan kemandirian dan transisi energi dari fosil menuju energi baru terbarukan (EBT).
Kajian mengenai energi berkelanjutan terus di dengungkan. Meskipun faktanya masih banyak persoalan dan tantangan yang harus diselesaikan.
Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko mengungkapkan banyak tantangan dalam mewujudkan infrastruktur hijau untuk mendukung konservasi energi berkelanjutan.
Di Indonesia potensi energi fosil terutama minyak dan gas bumi semakin terbatas sementara temuan cadangan energi baru kecil. Serta menimbulkan emisi co2.
Di sisi lain investasi untuk eksplorasi migas terbatas, potensi batubara cukup besar namun masih bersifat polutan, peruabahan iklim global menuntut perlunya kesepakatan untuk pengurangan bahan bakar fosil, potensi energi baru terbarukan cukup besar tapi harga keekonomian tidak mendorong pengusahaan, teknologi konversi energi dan penyimpanan energi masih menjadi beban eonomi energi, dan keterjangkauan wilayah yang tidak mudah menyediakan energi yang handal.
“Kita sudah punya surya, hidro, angin, bio energi, dan sebagainya. Sumber energi itulah yang seharusnya di optimalkan,” ujarnya saat Kuliah Umum Pengembangan Infrastruktur Hijau Mendukung Konservasi Energi Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045 di Gedung Prof Ir Eko Budihardjo, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro pada Kamis (23/11).
Menurutnya, skenario menurunkan emisi CO2 salah satu caranya ialah menghilirisasi batubara.Bagaimana mengolah batubara menjadi produk turunan batu bara.
Bisa dengan cara digasifikasi maupun diambil karbonnya yang justru bernilai tinggi.
Namun persoalannya adalah bagaimana teknologi untuk melakukan hal tersebut. “Terlalu mahal batu bara kalau hanya di bakar,” tandasnya.
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Kelistrikan Sripeni Inten Cahyani tak menampik, transisi energi memang tak mudah.
Hal itu lantaran masyarakat sudah terlalu nyaman dengan apa yang ada saat ini. kendati demikian, menurutnya, masyarakat juga harus memahami gambaran kedepan akhir dari suatu transisi energi.
“Kita meakukan ntransisi energi ini untuk mendukung indonesia emas 2045 dimana dalam salah satunya sasaran visi untuk menurunkan emisi co2 gas rumah kaca,” jelasnya.
Meski disadari, lanjutnya, menuju ke arah energi terbarukan membutuhkan ongkos yang cukup mahal.
Oleh karena itu ia mengajak para akademisi danmahasiswa untuk bersama-sama berfikir bagaimana melakukan inovasi untuk mendapatkan game changer salah satunya baterai.
Ia menyoroti sumber energi surya yang secara geografis di Indonesia lebih diuntungkan.
“Energi surya luar biasa meski hanya empat jam atau setara 17 persen capacity factor-nya. Tapi membutuhkan investasi tambahan dan inovasi bagaimana menurunkan harga baterai untuk menyimpan energi atau pumped storage (penyimpanan raksasa),” jelasnya.
Direktur Jendral Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti juga mengakui banyakn6ya tantangan menuju transisi energi.
Terlebih menyoal tentang pertumbuhan penduduk yang mendorong arus urbanisasi. Dipaparkan, saat ini penduduk indonesia yang tinggal di perkotaan mencapai 58 persen.
Diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah pada 2045 mendatang menyentuh angka 73 persen.
“Maka kebutuhan air, rumah, sampah dan sebagainya juga akan bertambah. Apalagi terjadi kesenjangan di daerah barat, tengah, dan timur yang membutuhkan pembangunan masif,” pungkasnya. (mia/svc)
Editor : Agus AP