RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tak seperti tahun lalu, Haul Akbar Sunan Pandanaran 1 digelar tanpa kemeriahan kirab budaya.
Ketiadaan kirab budaya itu lantaran penghitungan Jawa kurang pas sehingga panitia sepakat tak menggelar kirab budaya. Meski demikian tidak mengurangi esensi perayaan haul.
Pengelola Makam Ki Ageng Pandanaran Agus Kardiono mengungkapkan, tahun ini memang tidak ada kirab budaya seperti tahun lalu.
Meski demikian tradisi tahunan buka luwur, penjamasan pusaka, dan doa-doa tetap dilaksanakan.
“Dimulai dari khataman dengan para hafidz, penggantian mori yang baru, dan diakhiri dengan doa serta penjamasan pusaka seperti tombak dan lainnya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang di Makam Ki Ageng Pandanaran di Jalan Mugas dalam II, Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang Sabtu (6/8).
Biasanya, kata dia, kirab dilaksanakan mulai dari Taman Indonesia Kaya. Dihadiri oleh ribuan orang dari berbagai paguyuban dan komunitas serta masyarakat umum.
Beragam gunungan sayuran dan buah-buahan dipanggul dan sesampainya di depan makam diperebutkan masyarakat sekitar. Sementara pusaka dibawa ke dalam untuk kembali disemayamkan setelah dijamas.
“Karena pedoman kita hitungan Jawa dan untuk tahun ini kok kebetulan kurang pas jadi tidak dilaksanakan,” jelas Agus.
Meski demikian, acara Buka Luwur pada Jumat (5/8) malam juga ramai pengunjung. Dihadiri lebih dari seribu orang dari berbagai kota.
Dalam kesempatan itu, hadir pula Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. Ia menyampaikan tentang teladan tokoh-tokoh terdahulu.
Terutama para perintis, pendiri, dan pengembang bidang keagamaan di Kota Semarang. Mbak Ita, sapaan akrabnya, berjanji akan mengembangkan wisata religi makam Ki Ageng Pandanaran.
“Sebelumnya Kiai Sholeh Darat sudah dan nanti giliran Makam Ki Ageng Pandanaran,” tuturnya. (mia/ton)
Editor : Baskoro Septiadi