
RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Jawa Tengah menggelar program coaching gratis untuk pengurusnya. Kegiatan berlangsung selama 30 hari, mulai 2 September 2026 lalu, yang diikuti sebanyak 35 pengurus aktif.
Program ini dikawal langsung Sekretaris Wilayah IGI Jateng, Sri Sugianto, S.Pd., M.Si., M.Kom, bersama Ketua Wilayah IGI Jateng, Dr. Imron, S.Pd., M.Pd. Keduanya bertindak sebagai coach.
Kegiatan ini digelar untuk menyongsong Hari Kesaktian Pancasila 2026. Semangatnya sederhana. Guru yang tumbuh akan menguatkan organisasi, akhirnya bangsa dan negara.
Coaching berbeda dengan pelatihan atau nasihat. Coach tidak memberi jawaban. Coach mengajukan pertanyaan yang menggugah. Dari sana, peserta atau coachee menemukan sendiri solusinya.
Pendekatan ini sejalan dengan Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Nomor 211/K.1/HKM.02.2/2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan Coaching dan Mentoring Sektor Publik. Keputusan itu ditetapkan di Jakarta pada 5 Mei 2026. Dalam pedoman tersebut, coach tidak harus ahli di bidang teknis yang sama dengan coachee. Peran utamanya memfasilitasi proses berpikir dan refleksi. Coachee menjadi pemilik proses belajar sekaligus pengambil keputusan.
Dr. Imron merupakan lulusan Sertifikasi Coach dan Mentor Sektor Publik dari LAN RI. Sementara itu, Sri Sugianto adalah coach dari Masyarakat Coaching Indonesia (MCI). Dua latar belakang ini saling melengkapi. Satu membawa standar sektor publik. Satu lagi membawa praktik komunitas coach profesional.
Coaching dilakukan secara personal. Setiap sesi rata-rata berlangsung 60 hingga 90 menit. Suasananya santai, terbuka, dan saling percaya. Alurnya mengikuti kerangka percakapan yang umum dipakai dalam coaching. Coach lebih dulu membantu peserta merumuskan tujuan yang jelas. Lalu peserta memotret kondisi saat ini dan menggali berbagai pilihan langkah. Terakhir, peserta menetapkan komitmen tindakan yang nyata.
Coach hadir sepenuhnya, mendengarkan dengan saksama, dan mengajukan pertanyaan yang tepat. Tidak ada penghakiman. Kegagalan dipandang sebagai bahan belajar.
Secara umum, para coachee merasa terbantu. Mereka lebih mudah menemukan tujuan yang ingin dicapai. Mereka juga lebih jelas melihat sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




