Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gubernur Jateng Pastikan Hadir di Anugerah Radar Semarang

K
KUATKAN SINERGI: Gubernur Jateng Ahmad Luthfi berfoto bersama jajaran manajer Jawa Pos Radar Semarang usai beradiensi, Rabu (23/9). (Khafifah Arini Putri/Jawa Pos Radar Semarang)
KUATKAN SINERGI: Gubernur Jateng Ahmad Luthfi berfoto bersama jajaran manajer Jawa Pos Radar Semarang usai beradiensi, Rabu (23/9). (Khafifah Arini Putri/Jawa Pos Radar Semarang)

Advertisement

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi memastikan hadir dalam Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2026. Ia bahkan mengajak para bupati dan wali kota se-Jateng ikut hadir dan mendukung agenda tersebut.

Kepastian itu disampaikan Luthfi saat menerima jajaran manajemen Jawa Pos Radar Semarang di Kantor Gubernur Jateng, Rabu (23/9). Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2026 akan digelar di Hotel Patra Jasa Semarang, Jumat (25/9).

Advertisement

“Saya nanti akan datang, siap (menghadiri Anugerah Jawa Pos Radar Semarang), termasuk bupati-bupati yang akan saya warning betul-betul mengimbangi kegiatan kita untuk tidak kalah di media sosial,” kata Luthfi.

Dalam pertemuan itu, Luthfi juga menyoroti tantangan media mainstream di tengah derasnya arus informasi media sosial. Luthfi menilai media mainstream tetap memiliki posisi penting di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Sebab, informasi di media sosial bergerak sangat cepat. Namun, tidak semuanya melalui proses verifikasi.

Menurutnya, media massa harus hadir sebagai penyeimbang. Terutama dengan menyajikan informasi yang berbasis fakta dan dapat dipertanggungjawabkan.

Advertisement

“Saat ini media maya, mereka masih kuat. Mereka seperti adu ujaran kebencian, adu fitnah. Nah, karena itu perlu adanya suatu penekanan yang konkret. Apa yang menjadi fakta harus betul-betul dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Luthfi mengakui masyarakat kini lebih banyak mengakses informasi melalui TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya. Kondisi itu membuat media mainstream dituntut tidak sekadar mengikuti kecepatan media sosial. Validitas informasi harus menjadi pembeda.

“Media mainstream dan media cetak kemudian media-media konvensional harus bersatu untuk menyampaikan hal-hal fakta yang bisa divalidasi dan dijadikan rujukan oleh masyarakat,” ujarnya.

Luthfi menyebut fenomena viral kini kerap menjadi ukuran utama dalam penyebaran informasi. Padahal, informasi yang menarik perhatian belum tentu memiliki dasar fakta yang kuat.

“Sekarang yang penting menarik terus viral. Tapi faktanya belum tentu ada. Kadang-kadang paradigma ini yang harus dikikis sehingga harus kita imbangi,” katanya.

Karena itu, dia mendorong pemerintah terus membangun kolaborasi dengan media mainstream. Media dinilai tidak hanya berfungsi menyampaikan program pemerintah, tetapi juga memberikan evaluasi.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Stunting Jawa Tengah Turun Jadi 9,93 Persen, Ahmad Luthfi Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

Stunting Jawa Tengah Turun Jadi 9,93 Persen, Ahmad Luthfi Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

Stunting Jawa Tengah Turun Jadi 9,93 Persen, Ahmad Luthfi Dorong Kolaborasi Lintas Sektor

Ahmad Luthfi Tegaskan Jabatan Pemprov Jateng Tak Boleh Titip-Titipan, Pengisian Lewat Manajemen Talenta

Ahmad Luthfi Tegaskan Jabatan Pemprov Jateng Tak Boleh Titip-Titipan, Pengisian Lewat Manajemen Talenta

Ahmad Luthfi Tegaskan Jabatan Pemprov Jateng Tak Boleh Titip-Titipan, Pengisian Lewat Manajemen Talenta

407 Ton Solar Diduga Ilegal Diamankan di Perairan Semarang, Ahmad Luthfi: Jangan Ganggu Nelayan

407 Ton Solar Diduga Ilegal Diamankan di Perairan Semarang, Ahmad Luthfi: Jangan Ganggu Nelayan

407 Ton Solar Diduga Ilegal Diamankan di Perairan Semarang, Ahmad Luthfi: Jangan Ganggu Nelayan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer