Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Iqra dan Realitas Sintetis

Radar Semarang • Selasa, 10 Maret 2026 | 09:39 WIB

Photo
Photo

Oleh: Prof. Dr. Rasimin, M.Pd.

(Guru Besar Pendidikan IPS dan Dekan FTIK UIN Salatiga)

 

RADARSEMARANG.ID - Peringatan Nuzulul Quran 1447 H tahun ini bergulir di tengah pusaran transformasi peradaban yang melampaui imajinasi masa lalu. Lebih dari empat belas abad silam, peristiwa di Gua Hira memicu revolusi literasi bagi segenap umat melalui wahyu pertama: Iqra’. Perintah ini merupakan sauh abadi yang menjaga nalar tetap tegak di tengah pasang surut zaman. Melalui peristiwa agung tersebut, manusia mengemban misi besar untuk melakukan observasi, riset, serta pemaknaan mendalam terhadap eksistensi Sang Pencipta dan rahasia semesta guna mewujudkan kemaslahatan publik.

Lonjakan peradaban tersebut kini berhadapan dengan tembok besar bernama "Era Realitas Sintetis". Kita telah meninggalkan era algoritma media sosial yang sebatas menyaring informasi, lalu melangkah ke panggung baru yang lebih kompleks. Lembaga riset Gartner memproyeksikan bahwa pada awal 2026 ini, lebih dari 60% konten digital di ruang publik merupakan hasil dari generatif AI. Kenyataan bahwa informasi kini lahir dari rahim mesin menciptakan bah digital yang berisiko menenggelamkan kejernihan nalar. Akibatnya, kalkulasi probabilitas model bahasa besar perlahan mengaburkan batas antara ciptaan organik Sang Khalik dengan hasil fabrikasi teknologi.

Situasi sedemikian rupa memicu pertanyaan reflektif: Jika mesin mampu memproduksi narasi hikmah jauh lebih cepat dari manusia, masihkah perintah Iqra’ relevan? Kita patut gelisah memikirkan di mana letak marwah intelektual kita saat mesin mulai piawai meniru gaya bahasa para nabi. Yuval Noah Harari dalam karya terbarunya, Nexus (2024), bahkan memperingatkan munculnya kecerdasan asing (alien intelligence) yang mampu meretas narasi budaya dan menciptakan realitasnya sendiri. Berpijak pada kegelisahan tersebut, tulisan ini hendak menggali kembali esensi Iqra’ sebagai benteng kedaulatan berpikir di tengah kepungan realitas buatan yang sering kali laksana bunga plastik, tampak indah namun nir-jiwa.

Ditinjau dari perspektif Pendidikan IPS, era pasca-algoritma ini mengancam realitas sosial yang menjadi fondasi kewargaan. World Economic Forum (2026) menempatkan misinformasi berbasis AI sebagai risiko eksistensial global nomor satu karena kemampuannya memanipulasi persepsi publik secara masif. Tanpa bimbingan wahyu, manusia modern rentan kehilangan pegangan pada kebenaran otentik. Kondisi ini membawa kita pada hutan belantara cermin realitas sintetis, yaitu sebuah situasi ketika simulasi dianggap lebih nyata dan lebih dipercaya dibandingkan kenyataan itu sendiri (Baudrillard, 1994).

Guna menavigasi kerumitan tersebut, Al-Quran hadir sebagai Al-Furqan atau Sang Pembeda yang menawarkan urgensi baru. Meskipun mesin memiliki akses pada data raksasa, ia tetap hampa akan Basirah, yakni pelita batin yang tak kunjung padam oleh pekatnya kabut informasi. Dalam konteks kekinian, Iqra’ adalah keberanian menggunakan nurani sebagai ayakan utama guna memisahkan emas kebenaran dari debu distorsi digital. Luciano Floridi (2024) menyebut kemampuan ini sebagai kapital semantik, yaitu otoritas manusia untuk memberikan makna mendalam yang tidak akan pernah dimiliki oleh sistem pemrosesan informasi murni.

Menyikapi pergeseran mendasar ini, saya menawarkan tiga langkah strategis sebagai bentuk reaktualisasi semangat Nuzulul Quran. Pertama, institusi pendidikan perlu melakukan pergeseran radikal dalam pedagogi dari sebatas transfer informasi menuju pengasahan inkuiri sosial yang kritis. Ekosistem pendidikan wajib beralih peran menjadi penjaga nyala api hikmah. Fokus kita harus bergeser pada kecerdasan manusia yang teraugmentasi (intelligence-augmented). Sebagaimana ditegaskan Rose Luckin (2025), teknologi hanyalah alat, justru kompas etika tetap merupakan hak prerogatif manusia yang harus diasah di ruang kelas.

Kedua, kita harus menjamin posisi teknologi tetap sebagai khadim atau pelayan, sedangkan ruhani manusia tetaplah menjadi sayyid atau tuan. Pendidikan IPS memegang peran krusial untuk memperkuat literasi kewargaan digital (digital citizenship) guna memastikan subjek manusia tidak tereduksi menjadi sekadar angka dalam statistik korporasi teknologi. Di ruang kelas, sentuhan kemanusiaan, empati, dan etika harus menjadi menu utama. Secara praktis, pendidik wajib melatih siswa untuk selalu mempertanyakan otoritas sumber informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran mutlak. Unsur-unsur kemanusiaan ini adalah wilayah orisinal yang tak akan pernah bisa dipanen dari kebun kode pemrograman mana pun.

Ketiga, kita memerlukan perumusan etika teosentris dalam penggunaan teknologi masa depan yang selaras dengan kemaslahatan publik. Setiap interaksi kita dengan mesin merupakan bagian dari amal ibadah yang memiliki akuntabilitas teologis. Mustafa Suleyman (2024) mengingatkan adanya gelombang besar teknologi yang sulit dibendung, sehingga batasan moral menjadi harga mati. Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa mencegah kerusakan harus diutamakan dibandingkan mengejar manfaat semata (dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih).

Apabila trilogi rekomendasi tersebut terwujud, saya memprediksi lahirnya "Renaisans Makna" di tengah kekeringan spiritual era siber. Kita tidak lagi hanya mencetak sarjana yang mahir mengoperasikan alat, justru melahirkan generasi yang memiliki kedaulatan kognitif. Dalam proyeksi Pendidikan IPS, masyarakat akan bertransformasi menjadi entitas sosial yang memiliki ketahanan (resilience) luar biasa terhadap manipulasi persepsi. Manusia akan kembali memegang kendali atas narasi peradabannya sendiri, menjadikan teknologi AI sebagai katalisator kreativitas, bukan sebagai pengganti kesadaran. Inilah titik di mana Indonesia mampu menawarkan model Kewargaan Berbasis Wahyu kepada panggung peradaban global, sebuah tatanan masyarakat yang cerdas secara artifisial namun tetap luhur secara ruhaniah.

Sebagai simpulan, Nuzulul Quran di era realitas sintetis ini adalah alarm bahwa kebenaran tertinggi bersifat tanzil, yang diturunkan dari Sang Pencipta dan bukan hasil komputasi. Mesin mungkin pintar dalam mengolah fakta, namun hanya manusia yang tercerahkan wahyu yang mampu menangkap hakikat di balik fakta tersebut. Al-Quran diturunkan untuk memanusiakan manusia, bukan menjadikan kita robot yang tunduk pada statistik dan probabilitas algoritma buatan. 

Mari membumikan kembali semangat Iqra’ yang berdaulat. Di tengah ekosistem yang semakin sintetis, Al-Quran adalah kompas autentik yang menjaga kita tetap menjadi manusia seutuhnya. Masa depan peradaban tidak ditentukan oleh kecanggihan AI yang kita miliki, justru oleh kekuatan kita menjaga kejernihan akal dan kesucian hati dalam membaca tanda-tanda zaman. Sebagaimana pepatah Arab mengingatkan kita: al-’ilmu fis-shudur, la fis-suthur. Ilmu yang sejati itu bersemayam di dalam dada, bukan sekadar berderet dalam barisan kata. Jangan sampai kita tersesat dalam labirin yang kita bangun sendiri.

Editor : Baskoro Septiadi
#nuzulul quran