RADARSEMARANG.ID, SALATIGA -
Ruang Rapat Utama Gedung Ahmad Dahlan UIN Salatiga mendadak sibuk sejak Rabu pagi (11/2).
Deretan komputer, displai media pembelajaran digital dan tumpukan buku karya mahasiswa berjejer rapi, menyambut kehadiran tim asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK).
Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) FTIK UIN Salatiga tengah menempuh "ujian naik kelas" dalam Asesmen Lapangan yang berlangsung hingga Kamis (12/2).
Rektor UIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., memandang agenda ini bukan saja persoalan administratif. Baginya, PBA adalah garda depan citra universitas.
"Prodi PBA ini adalah salah satu 'wajah' UIN Salatiga di mata dunia, terutama dalam memperkuat relasi dengan kawasan Timur Tengah," tuturnya di sela pembukaan acara.
Zakiyuddin menegaskan, predikat Unggul dari LAMDIK bukan tujuan akhir, melainkan batu loncatan menuju panggung internasional.
"Ini modalitas kuat kita untuk melangkah ke akreditasi internasional seperti FIBAA atau AUN-QA. Kita ingin menunjukkan kontribusi nyata bagi peradaban melalui data yang otentik," imbuhnya penuh optimisme.
Senada, Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., menyebut momen ini sebagai pembuktian atas kerja senyap yang dilakukan timnya selama bertahun-tahun.
Ia meyakini kualitas kurikulum dan riset di FTIK sudah melampaui standar formalitas.
"Hasil dari PBA ini akan menjadi benchmark. Jika PBA bisa meraih hasil maksimal, akan ada efek domino positif bagi prodi-prodi lain di bawah naungan FTIK," tegas Rasimin.
Di sudut lain ruangan, Ketua Prodi PBA, Wakhidati Nurrohmah Putri, M.Pd.I., tampak sibuk menunjukkan integrasi teknologi dalam pembelajaran kepada tim asesor. Ia tak hanya mengandalkan tumpukan dokumen, tetapi juga merangkul testimoni alumni dan pengguna lulusan.
"Kami pastikan alumni dan pengguna memahami visi kami. Saat diwawancarai, mereka bisa menceritakan realita keunggulan prodi secara sinkron," jelas Wakhidati.
Proses verifikasi pun berlangsung ketat. Asesor 1 dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Yayan Nurbayan, M.Ag., memilih turun langsung meninjau fasilitas. Ia mencocokkan setiap angka di laporan dengan sertifikat dan logbook asli.
"Saya ingin memastikan integritas data. Selain itu, saya ingin melihat apakah atmosfer akademik benar-benar 'terasa' di koridor kampus, termasuk kesiapan Laboratorium Bahasa hingga aksesibilitas bagi mahasiswa disabilitas," ungkapnya sambil memeriksa detail fasilitas di Gedung Ahmad Dahlan.
Sementara itu, Asesor 2 dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Dr. Anin Nurhayati, M.Pd.I., lebih banyak membedah "dapur" penjaminan mutu dan sistem digital. Ia melakukan uji petik langsung terhadap learning management system (LMS) yang digunakan dosen dan mahasiswa.
"Kuncinya ada pada perbaikan. Jika ada masalah, apakah prodi memperbaikinya atau membiarkannya? Itulah yang menentukan nilai Unggul," tegas Dr. Anin sembari mengamati layar monitor sistem informasi akademik.(sas)
Editor : Tasropi