RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Di sudut kampus UIN Salatiga yang sejuk dan hening, suara burung terdengar lebih nyaring dari biasanya. Pagi itu adalah Minggu (13/4).
Tak ada kuliah, tak ada seminar. Namun suasana di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) justru hidup oleh kedatangan para pemimpinnya.
Di tengah hari libur, jajaran dekanat hadir satu per satu menyambut tim Jawa Pos Radar Semarang, yang datang untuk menggali pandangan akademik mereka tentang program makan siang bergizi gratis, sebuah inisiatif strategis dari Presiden terpilih Prabowo Subianto.
“Kami tetap hadir karena isu ini menyentuh nadi pendidikan. Bicara masa depan anak bangsa, tidak bisa ditunda oleh kalender,” ujar Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dekan FTIK, membuka pertemuan.
Dengan ramah ia mempersilakan tim duduk di ruang kerja yang sederhana namun sarat atmosfer intelektual. Di mejanya tertumpuk referensi dari berbagai negara, termasuk Finlandia, negara yang sering menjadi rujukan utama dalam reformasi pendidikan.
Finlandia, lanjut Prof. Rasimin, menjadi contoh konkret bagaimana jaminan gizi di sekolah berperan penting dalam keberhasilan pendidikan. Sejak 1948, negara tersebut telah melaksanakan makan siang gratis bagi seluruh pelajarnya.
Persiapannya sendiri memakan waktu lima tahun setelah perang dunia—dimulai dari landasan hukum, desain kebijakan, hingga keterlibatan guru, petani, dan orangtua.
“Yang ingin dibangun bukan semata program logistik makanan, melainkan ekosistem pendidikan yang sehat dan adil. Jika Indonesia ingin melangkah ke arah serupa, kita butuh pendekatan yang menyeluruh dan bertahap,” tegasnya.
Dr. Fathurrahman, M.Pd., Wakil Dekan I, menambahkan bahwa makan siang di sekolah berperan besar dalam membentuk budaya belajar.
“Di Finlandia, sesi makan siang menjadi bagian dari pendidikan nilai. Anak-anak belajar tentang nutrisi, keberagaman budaya lewat menu, hingga kesadaran sosial,” jelasnya.
Ia menunjukkan contoh hari-hari bertema seperti Vegetarian Monday dan International Cuisine Day yang membantu anak memahami gaya hidup berkelanjutan dan menghargai perbedaan.
Menurutnya, waktu makan dapat berfungsi sebagai medium pembelajaran demokrasi sejak dini.
Anak-anak diberi kesempatan memilih menu dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang mereka buat. “Dari meja makan, karakter dan kedewasaan bisa tumbuh,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Maslikhah, S.Ag., M.Si., Wakil Dekan III, mengangkat dimensi emosional dan sosial.
“Anak yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar akan kesulitan menyerap pelajaran. Wajah mereka murung, daya fokus menurun, dan motivasi belajar menguap,” katanya lirih namun tegas.
Baginya, makan bergizi adalah fondasi bagi pendidikan yang manusiawi, bukan elemen tambahan yang bisa diabaikan.
Lebih jauh, Norwanto, S.Pd., M.Hum., Ph.D., Wakil Dekan II, menyoroti aspek kelembagaan dan tata kelola.
Menurutnya, keberhasilan program semacam ini menuntut koordinasi lintas sektor dan pemetaan kebijakan secara akurat.
“Perlu desain ekosistem yang melibatkan semua lapisan: pemerintah pusat sebagai perancang, daerah sebagai pelaksana teknis, sekolah sebagai pengelola, dan masyarakat sebagai pendukung,” urainya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan petani lokal, penyedia katering, dan ahli gizi dapat memperkuat kualitas program sekaligus menggerakkan roda ekonomi desa.
Untuk menjamin keberlangsungan, Norwanto mendorong lahirnya panduan nasional yang dilengkapi dengan evaluasi rutin, mirip dengan apa yang dilakukan oleh Badan Kesehatan Finlandia.
Wawancara berlangsung lebih dari satu jam. Semangat para narasumber tak surut sedikit pun. Mereka berbicara bukan hanya sebagai pejabat kampus, tetapi sebagai orang tua, pendidik, dan warga negara yang memahami akar masalah pendidikan dari dekat.
Di akhir perbincangan, Prof. Rasimin menutup dengan pernyataan yang sarat makna, “Mendidik anak bangsa tidak bisa dimulai dari papan tulis. Mulailah dari piring makan mereka. Kalau asupan gizinya terpenuhi, pikirannya jernih, dan moralnya kuat.”
Saat tim wartawan meninggalkan ruang pertemuan, kampus kembali sunyi. Namun, percakapan hari itu menetap sebagai isyarat bahwa program makan siang gratis adalah bentuk kehadiran negara yang menyentuh langsung kebutuhan paling mendasar anak-anak Indonesia.
Dalam kerangka psikologi humanistik Abraham Maslow, kebutuhan fisiologis seperti makan merupakan lapisan pertama dalam hierarki kebutuhan manusia—sebuah pijakan dasar yang menopang proses belajar, tumbuh, dan berkembang. (sas/bas)
Editor : Baskoro Septiadi