Penegerian RA Disorot, PPIAUD Jateng-DIY Berharap Ada Langkah Konkret

RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Wacana penegerian Raudhatul Athfal (RA) kembali mencuat. Pemerintah didorong segera mengambil langkah konkret menghadirkan RA negeri sebagai lembaga percontohan untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam anak usia dini.
Sorotan tersebut disampaikan Ketua Umum Perkumpulan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PPIAUD), Dr. Maulidya Ulfah, M.Pd., dalam konsolidasi pengurus dan workshop bedah instrumen LAMDIK 3.0 PPIAUD Wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurut Maulidya, keberadaan RA negeri diperlukan untuk menjadi model pengelolaan lembaga pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, hingga pembinaan tenaga pendidik. Karena itu, penegerian RA dinilai sudah saatnya mendapatkan perhatian serius pemerintah.
"Penegerian RA sudah saatnya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kehadiran RA negeri diperlukan sebagai lembaga percontohan dalam pengelolaan pendidikan, peningkatan mutu pembelajaran, dan pembinaan tenaga pendidik. Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mewujudkannya," ujarnya.
Di sisi lain, Maulidya juga menekankan pentingnya penguatan RA swasta yang selama ini menjadi bagian penting dalam menyediakan layanan pendidikan anak usia dini bagi masyarakat.
Selain menyoroti masa depan RA, pertemuan tersebut juga membahas penguatan organisasi dan kesiapan program studi menghadapi akreditasi. Ketua PPIAUD Wilayah Jateng-DIY, Dr. MS Viktor Purhanudin, M.Pd., mengatakan konsolidasi diarahkan untuk membenahi tata kelola organisasi, menyelaraskan program kerja, serta memperjelas tanggung jawab setiap pengurus.
"Kami ingin membangun organisasi dengan tata kelola yang tertib, program kerja yang produktif, dan capaian yang terukur. Setiap pengurus harus menjalankan tanggung jawabnya agar program organisasi memberikan manfaat nyata bagi anggota," tegasnya.
Wakil Ketua PPIAUD Wilayah Jateng-DIY, Dr. Yuni Setya Hartati, M.Pd., menambahkan setiap program harus memiliki penanggung jawab, jadwal, dan target yang jelas. Evaluasi berkala juga diperlukan agar hasil konsolidasi tidak berhenti sebatas kesepakatan.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan workshop bedah instrumen akreditasi LAMDIK 3.0 bersama Prof. Dr. H. Suyadi, M.A., akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puluhan peserta dari unsur pimpinan program studi, dosen, dan pengurus PPIAUD mengikuti pembahasan tersebut.
Suyadi menjelaskan, LAMDIK 3.0 masih menggunakan sembilan kriteria dan 65 elemen seperti instrumen versi 2.0. Namun, terdapat penajaman pada penilaian luaran, refleksi capaian, serta tindak lanjut peningkatan mutu program studi. Perubahan juga menyangkut pengaturan masa berlaku status akreditasi Unggul selama tiga dan lima tahun.
Ia mengingatkan pengelola program studi agar tidak sekadar memenuhi kelengkapan administrasi dalam menyusun Laporan Evaluasi Diri (LED). Setiap capaian harus disertai data valid, analisis mendalam, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui konsolidasi dan workshop tersebut, PPIAUD Jateng-DIY berharap tata kelola organisasi semakin kuat sekaligus mendorong program studi PIAUD lebih siap menghadapi tuntutan akreditasi dan peningkatan mutu pendidikan anak usia dini.
Catatan angle: Saya menempatkan penegerian RA sebagai isu utama agar berita tidak tenggelam dalam laporan kegiatan workshop. Isu kebijakan pendidikan menjadi pintu masuk, sedangkan konsolidasi dan LAMDIK 3.0 menjadi penguat berita.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




