Kreatif Mengajar Bahasa Jawa dengan Film Animasi

388
Oleh: Senirah SPd MM
Oleh: Senirah SPd MM

RADARSEMARANG.COM – SEJAK 2005 mulai diberlakukannya mata pelajaran bahasa Jawa sebagai mata pelajaran muatan lokal pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan sederajat. Kurang lebih 13 tahun yang lalu Bahasa Jawa mendapatkan perhatian dari Gubernur Jawa Tengah. Dengan demikian mata pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokal baik pada kurikulum 2006 maupun kurikulum 2013 mendapatkan porsi tersendiri.

Wujud rasa syukur sebagai guru Bahasa Jawa salah satunya adalah senantiasa menanamkan nilai-nilai luhur Bahasa Jawa baik pada diri sendiri maupun peserta didik maupun lingkungan. Senantiasa mengembangkan dan mengembangkan materi ajar, sehingga bersifat kontekstual. Tidak hanya sekadar materi tetapi benar-benar bermanfaat, bernilai sebagai penambahan materi dan dapat mengimplementasikan ke dalam kehidupan nyata. Sehingga kelak dengan hadirnya mata pelajaran Bahasa Jawa sejak satuan pendidikan Sekolah Dasar hingga jejang Menengah Atas secara kontinyu  peserta didik akan terus mendapatkan pelajaran Bahasa Jawa.

Pelajaran Bahasa Jawa yang identik dengan muatan-muatan nilai-nilai adiluhungnya, maka dengan harapan semua nilai-nilai luhurnya dapat berguna bagi peserta didik di masyarakat kelak diantaranya nilai bertanggungjawab, gotong royong. Namun, yang banyak terjadi dilapangan adalah kebosanan, kejenuhan peserta didik pada saat menerima mata pelajaran bahasa Jawa. Hal ini nampak tidak semangatnya peserta didik pada saat pembelajaran, banyak yang mengantuk, bercerita sendiri bersama temannya dan tidak jarangpula yang malah asyik bermain gawai. Terutama pada jenjang SMA peserta didik sudah mendapatkan banyak pelajaran bahasa asing yang baru seperti halnya Bahasa Perancis dan Bahasa Jepang.

Menjadi tantangan tersendiri bagi guru Bahasa Jawa untuk tetap membuat peserta didik mencintai dan menggunakan Bahasa Jawa. Salah satu usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat media-media yang menarik seperti film animasi. Dalam film animasi terdapat percakapan langsung dan nampak unggah ungguh yang jelas. Sehingga peserta didik dapat menikmati, mengamati secara langsung nilai-nilai adiluhung dalam pembelajaran Bahasa Jawa. Karena dirasa unggah-ungguh peserta didik seiring perkembangan era teknologi ini semakin memudar.