YouTube Tingkatkan Motivasi Belajar Bahasa Jawa

356
Oleh: Retno Kusumo Wardani SS
Oleh: Retno Kusumo Wardani SS

TAHUN ajaran 2005-2006 mulok Bahasa Jawa pertama kalinya diajarkan pada jenjang SMA/SMK di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Jogjakarta. Melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 423.5/27/2011 tentang Kurikulum Mata Pelajaran Muatan Lokal (Bahasa Jawa) untuk Jenjang Pendidikan Menengah Atas/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa/Sekolah Menengah Kejuruan/ Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta di Provinsi Jawa Tengah, yang isinya antara lain menimbang perlunya upaya penanaman nilai-nilai budi perkerti dan penguasaan bahasa Jawa bagi siswa Sekolah Menengah Atas /Sekolah Menengah Atas Luar Biasa / Sekolah Menengah Kejuruan / Madrasah Aliyah Negeri dan Swasta di Provinsi Jawa Tengah, maka mulok Bahasa Jawa wajib diajarkan pada siswa di jenjang tersebut.

Hingga saat ini di Provinsi Jawa Tengah, Bahasa Jawa menjadi mulok yang wajib diajarkan pada jenjang SMA/SMK. Banyak tantangan yang dihadapi oleh mulok Bahasa Jawa. Tantangan tersebut misalnya anggapan dari masyarakat dan bahkan guru, karena menganggap pelajaran Bahasa Jawa tidak penting. Hal ini terlihat pada awal dijadikannya mulok Bahasa Jawa sebagai mulok wajib di SMA/SMK, masih banyak sekolah yang setengah hati menjalankannya.

Menurut aturan kurikulum Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Mata Pelajaran Bahasa Jawa harus diajarkan dua jam pelajaran dalam seminggu di setiap jenjang kelas. Namun pada kenyataannya banyak sekolah yang mangabaikannya dengan hanya memberi alokasi waktu untuk mata pelajaran Bahasa Jawa satu jam pelajaran, itupun banyak di antaranya yang hanya di kelas X dan XI saja. Sementara untuk kelas XII alokasi waktu yang seharusnya digunakan untuk mata pelajaran Bahasa Jawa digunakan untuk mata pelajaran yang di-UN-kan.

Anggapan dari pihak sekolah bahwa mata pelajaran Bahasa Jawa tidak penting berimbas juga pada siswa. Ketika sekolah menomorduakan mata pelajaran Bahasa Jawa, maka siswa pun melakukan hal yang sama. Adanya anggapan bahwa mata pelajaran yang di-UN-kan lebih penting, anak pintar adalah anak yang bagus nilainya pada mata pelajaran yang di-UN-kan sudah melekat di benak masyarakat.

Kesan Pertama

Bagaimana membuat siswa tertarik untuk belajar Bahasa Jawa? Teringat jargon iklan yang berbunyi “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.” Ungkapan ini bisa kita terapkan untuk pelajaran Bahasa Jawa. Untuk membuat siswa tertarik belajar bahasa Jawa, guru harus bisa membuat kesan pertama yang ‘menggoda’ siswa.  Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk memotivasi siswa menyukai pelajaran Bahasa Jawa adalah dengan memanfaatkan video di YouTube. Di YouTube banyak tayangan mengenai orang asing (terutama orang Barat/ Bule) yang belajar bahasa dan budaya Jawa. Ajak siswa untuk menyaksikan tayangan ini pada pertemuan pertama mereka di SMA.

Masyarakat kita sering beranggapan bahwa orang Jawa atau Indonesia belajar bahasa Jawa itu biasa, namun jika melihat orang asing terutama yang berkulit putih (bule) belajar bahasa Jawa itu luar biasa.  Bahasa Jawa ketika diucapkan oleh orang Jawa itu biasa, namun ketika diucapkan oleh orang asing itu keren. Hal ini karena masyarakat kita dan terutama siswa masih menganggap segala sesuatu yang berasal dari barat itu adalah keren. Dan mungkin sekarang bisa ditambah dengan orang Korea Selatan yang belajar Bahasa Jawa.

Dari tayangan video YouTube tersebut, kita bangunkan rasa memiliki siswa. Misalnya dengan mengajak siswa berdiskusi dan berpikir bahwa mereka yang orang asing saja mau belajar bahasa Jawa, masak kita yang orang Jawa enggan mempelajarinya? Kalau demikian, maka tidak menutup kemungkinan kelak bahasa Jawa diakui oleh mereka, dan kita kalau ingin belajar bahasa Jawa harus belajar pada mereka.

Ingatkan juga siswa tentang beberapa kasus klaim negara tetangga atas kesenian dan budaya yang kita miliki. Klaim itu diantaranya disebabkan karena kita kurang memperhatikan dan mempunyai rasa memiliki, namun ketika ada negara lain yang mengklaim kita baru tersadar dan marah-marah. Ketika kita malas mempelajari Bahasa Jawa, sementara di luar sana ada banyak orang asing yang justru tertarik dengan bahasa dan budaya Jawa, maka tidak menutup kemungkinan kelak Bahasa Jawa pun akan diklaim mereka.

Dengan memainkan emosi mereka pada pertemuan pertama, diharapkan siswa akan selalu teringat dan termotivasi untuk belajar Bahasa Jawa. Jadi, meskipun Bahasa Jawa tidak menjadi mapel UN, meskipun bahasa Jawa tidak menentukan kelulusan, tidak akan menghilangkan minat siswa untuk mempelajari Bahasa Jawa.

Tinggal selanjutnya gurunya yang kemudian harus menjaga semangat dan minat siswa, diantaranya dengan membuat pelajaran Bahasa Jawa di kelas menarik, tidak monoton. Caranya masing-masing guru tentu berbeda-beda. Yang pasti guru bahasa Jawa dituntut untuk selalu bisa berinovasi dalam mengajar. (*/aro)