Hukum Wanita Istihadhah

90
tanya-jawab

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum Warahmatullah Bapak Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M Ag. yang dimuliakan Allah SWT., saya ingin bertanya, bagaimana hukum wanita yang sedang istihadhah dibulan puasa? Bolehkah jika ia tidak berpuasa saat Ramadhan dan mengqodho’nya saja dilain hari? terimakasih
Rizqa di Beringin 082295143xxx

Wa’alaikumussalam Warahmatullah mbak Rizqa yang saya hormati dan dimuliakan Allah, Istihadhah adalah darah yg keluar diluar masa haid. Asal darah bukan dari rahim layaknya haid, tetapi dari urat yang putus dan sifatnya seperti darah luka yang keluar. Sejatinya darah tersebut adalah darah penyakit sehingga darah itu dihukumi suci. Bagaimana jika ia keluar saat puasa ramadhan? Dalam hadist yang dari Aisyah ada seorang perempuan yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya, ” Ya Rasulullah, sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (istihadhah) dan tidak pernah suci. Apakah boleh meninggalkan salat?” kemudian Rasul menjawab : “Tidak, itu hanyalah darah penyakit, bukan darah haid. Bila haidmu datang tinggalkanlah salat. Dan bila haid itu berhenti, bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi), lalu salatlah.”

Dikutip dari hadist diatas, bahwa darah istihadhah tidaklah sama dengan darah haid. Darah istihadhah tidak bisa ditahan sebagaimana muntah yang spontanitas keluar, maka dari itu masih dihukumi suci dan masih dikenai kewajiban-kewajiban. Jika ia keluar saat puasa wajib, wajiblah ia berpuasa. Haram jika ia meninggalkan.

Wanita yang beristihadhah masih memiliki kewajiban salat maupun puasa. Pada kasus puasa wajib, wanita tersebut masih diharuskan melakukan puasa dibulan Ramadan dan mengganti (mengqodho’) dihari lain selain Ramadan. Beda halnya dengan salat, tidak diharuskan mengganti. Tujuan melakukan qodho’ tersebut ialah penyempurnaan dari ibadah puasa tadi. Sekian jawaban dari saya, semoga bermanfaat. (*/zal)