Beranda Rubrikasi Sosok Bisnis Tenun, Vina Berdayakan Emak-Emak

Bisnis Tenun, Vina Berdayakan Emak-Emak

0
Bisnis Tenun, Vina Berdayakan Emak-Emak
Vina Inayatuzzulfa. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Vina Inayatuzzulfa cekatan berjualan produk tenun asli Jepara. Ibu muda berusia 30 tahun ini mendesain sendiri berbagai jenis produk dari kain tenun. Saat ini, pemasaran produknya lebih gencar dilakukan lewat media sosial. Melalui usaha yang diberi nama Tenun Ikat Naviza ini, Vina bisa membuka peluang usaha bagi masyarakat. Vina menyebutnya dengan tim penjualan. Di tim itu, banyak memberdayakan emak-emak, termasuk para mahasiswa. Lewat tim itu, Vina bisa lebih leluasa mengurus keluarga. Prinsip yang selalu dipegang Vina adalah bisnis jalan terus, keluarga terurus.

“Melalui inovasi pemasaran itu, yang mendapat keuntungan bukan cuma saya saja. Mereka juga bisa memperoleh keuntungan,” tutur Vina pada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (12/11).

Vina selalu bangga akan produk budaya lokal, terutama dari Jepara, sebagai tempat kelahirannya. Melalui produknya, Vina menginginkan kain tenun bisa dinikmati sebagai produk fashion, dan semua orang bisa memiliki tenun.

Vina mulai berjualan sejak 2012, sembari kuliah ia membawa berbagai macam produk. Ia memasarkan jualannya ke sekolah-sekolah dekat kampusnya dulu, UIN Walisongo. “Awal jualan, saya sama adik saya. Niat jualan tenun untuk biaya kuliah. Model pembayarannya kredit,” kata Vina.

Menurutnya, usaha yang dirintis tersebut dapat bertahan hingga saat ini berkat kemauan untuk belajar. Guna mengikuti perkembangan zaman, Vina menyempatkan waktu mengikuti berbagai kelas pemasaran digital. “Saya mengikuti kelas covert selling, semacam kelas strategi penjualan bagaimana kita berjualan di Facebook, tapi tidak seperti menjual. Saya juga sering ikut kelas seperti foto produk,” tuturnya.

Produk yang dipasarkan berupa syal atau selendang, ikat kepala, tas, dompet pouch, baju dan lain sebagainya. Kain tenun yang dijual, diproduksi langsung oleh penenun Jepara. Kemudian, berbagai macam produk yang ia desain, diproduksi oleh para penjahit di Kudus. Saat ini, dalam sebulan ia bisa meraih omzet penjualan dari kisaran Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.
“Produk yang saya jual, paling murah dompet pouch seharga Rp 25 ribu, dan yang paling mahal produk baju tenun seharga Rp 325 ribu. Saya sendiri sengaja produksi barang daily outfit saja, yang bisa dipakai sehari-hari,” tandasnya. (cr3/aro)