Dalami Seni Lukis Kuku

152
Enggar Larasati Mukti.(Maria Novena/RADARSEMARANG.ID)
Enggar Larasati Mukti.(Maria Novena/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, TIDAK semua bisa melukis dengan bidang lukis di kuku. Bidang yang kecil dan dituntut menggambar detail sudah biasa dikerjakan Enggar Larasati Mukti. Ia yang sudah tiga tahun bekerja melukis kuku tersebut mengaku sudah terbiasa. Bisa dibilang passion-nya.

“Awalnya susah, bayangin aja sudah tidak sanggup, tetapi justru dari situ tertantang,” ucapnya kepada RADARSEMARANG.ID.

Imajinasi Enggar –sapaan akrabnya– terus digali. Sehari dirinya bisa melayani empat orang yang akan dilukis kukunya. Ia yang bekerja di salah satu salon kecantikan di Kota Semarang mengatakan tidak harus ada keturunan, namun ada kemauan untuk belajar.

“Terus latihan melukis di kuku palsu, lama-kelamaan terbiasa kok menggambar objek kecil. Tetapi memang paling mudah menjiplak,” katanya.

Perempuan berusia 22 tahun ini mengaku ingin memiliki salon kecantikan kuku sendiri. Membuat orang lain senang dengan hasil karya adalah kepuasannya.

Tidak hanya seni lukis kuku yang dilakukannya. Ia juga mahir merajut dompet, baju, hingga tas. Berbeda dengan pekerjaannya yang hampir 10 jam untuk melukis kuku. Merajut hanya untuk mengisi waktu luang saja.

Nah, kalau merajut baru meneruskan kegiatan ibu di rumah, karena sering melihat cara merajut, akhirnya bisa,” jelas perempuan yang hobi membaca novel ini.

Tidak tanggung-tanggung dari hasil merajutnya, pernah tas buatannya laku hingga Rp 5 juta. Lebih besar dari gaji bulanannya.  “Dari situ, ia semakin semangat merajut, apalagi kalau uang gajian mulai menipis. Jadi semangat banget,” katanya sambil tertawa. (ria/aro)