Hati Pak Hendi Jatuh di Kampung Hebat

110
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)
BAEHAQI, Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, “Pak Hendi memakai kaos biru. Tetapi, hatinya merah.” Itu kata saya ketika didaulat memberi sambutan pada pembukaan Lomba Kampung Hebat Kota Semarang kemarin. Kalau tidak percaya, silakan buka dadanya. Itulah hati yang sesungguhnya.

Pak Hendi yang saya maksud adalah Hendrar Prihadi, Wali Kota Semarang. Pagi itu mengenakan kaos biru dongker. Celana olah raga warna khaki. Sepatu kets kombinasi. Datang nyaris pas pukul 07.00, sesuai rundown acara. Beliau datang untuk membuka Lomba Kampung Hebat. Acara dihelat Jawa Pos Radar Semarang dan Pemkot Semarang.

Hati Pak Wali kelihatan jatuh sepanjang acara berlangsung. Beliau menjadi rebutan foto bersama warga yang mengikuti jalan sehat. Dengan telaten beliau melayani satu persatu. Tidak ada sekat lagi antara rakyat dan pemimpinnya. Bahkan ketika melihat ibu-ibu duduk di lapangan tanpa alas apapun, Pak Hendi ikut gelesoran. Kelihatan menikmati. Ajudan dan pengawal membiarkan. Hati saya jadi ambyar.

Saya menangkap kedekatan Pak Hendi dengan rakyat itu natural. Itu bisa tercipta karena hati. Saya sering mengatakan di depan karyawan. Hati itulah yang menggerakkan raga bertindak. Kalau hatinya baik, tindakannya cenderung baik. Demikian tersebut dalam sebuah hadits. Saya percaya itu.

Merakyatnya Pak Hendi itulah yang membuat dia sukses memimpin Semarang. Kota metropolitan dengan banyak persoalan. Seluruhnya kompleks. Tetapi, dengan mengedepankan hati nurani semua bisa teratasi. Dia tidak meledak-ledak seperti Pak Ahok ketika memimpin Jakarta. Pak Ahok itu bagus. Banyak mengeluarkan ide basar. Tetapi, tidak semua diterima masyarakat.

Ketika Pak Hendi menutup lokalisasi Sunan Kuning, banyak orang yang ketar-ketir. Termasuk saya. Jangan-jangan menjadi bumerang. Persoalan Sunan Kuning sangat kompleks. Antara moral, kemanusiaan, dan ekonomi bercampur. Kenyataannya Sunan Kuning bisa ditutup tanpa gejolak yang berarti. Demikian juga tempat-tempat karaoke liar di Semarang. Saya kembali menyimpulkan tertangkapnya hati oleh hati.

Rakyat sebenarnya gampang diatur. Sama dengan karyawan dalam sebuah perusahaan. Mereka juga manusia. Punya hati. Tinggal bagaimana menyentuhnya.Tidak gampang. Saya berusaha menarapkannya di Radar Semarang dan Radar Kudus yang saya pimpin. Kadang terseok-seok juga.

Lomba Kampung Hebat yang dilaksanakan di Semarang adalah bagian dari mendekati masyarakat dengan hati. Bisa menjadi contoh kota-kota lain. Intinya, bagaimana mengajak masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan di segala bidang. Kalau mereka bergerak bersama, tidak akan ada rintangan yang bisa menghalangi. Inilah yang diinginkan dalam pembangunan negeri ini.

Boleh jadi pemerintah sudah berusaha keras dengan mengucurkan banyak dana untuk pembangunan kampung. Malah di desa-desa ada dana khusus yang nilainya triliunan rupiah. Tetapi, apabila partisipasi masyarakat tidak digerakkan, dana itu malah bisa menjadi bancaan.

Lomba Kampung Hebat itu berbeda dengan lomba-lomba lain. Terutama yang dilaksanakan oleh pemerintah. Tidak ada presentasi. Karena presentasi kadang-kadang malah dibuat-buat. Bisa digunakan ajang kolusi juga. Penilaian langsung dilakukan di lapangan. Oleh tim yang berbeda di masing-masing tingkatan.

Hasilnya kelak akan riil. Sudah dua tahun terbukti. Kampung hijau, bersih, dan sehat bisa dilihat. Kampung guyub rukun bisa dibuktikan. Demikian juga kampung pintar, kreatif dan inovatif. Itulah kampung-kampung hebat. Jatung pembangunan itu sendiri. (hq@jawapos.co.id)