Golok-Golok Mentok untuk Hidup Lebih Antusias

111
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)
BAEHAQI, Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, SELAGI memimpin mauludan (Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW) di Radar Semarang, saya tiba-tiba galau. Acaranya Sabtu lalu itu terasa berat. Serius. Suasananya terasa tidak cair. Itu berbeda dibanding acara-acara lainnya. Saya sudah berusaha melemparkan humor. Masih saja dingin.

Berbagai pertanyaan menyeruak. Apakah karyawan tidak suka? Apakah mereka tidak bisa mengikuti? Apakah berbeda aliran? Apakah saya yang tidak bisa menciptakan suasana. Salah seorang karyawan menjawab. “Karena saking menghayati tausiah dan salawat,” kata Ida Fadilah, wartawan yang baru sepuluh hari bergabung dengan Radar Semarang. Saya manggut-manggut.

Seharusnya peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW itu memang berlangsung suka-cita. Mengekspresikan kesenangan menyambut utusan Allah yang bisa memberikan syafa’at kepada seluruh umatnya. Panitia sudah menghadirkan grup musik rebana. Budi Setyawan, wartawan Kendal, yang merekomendasikan. Dari Pondok Pesantren Azzahro, Pegandon, Kendal. Mereka terdiri atas sembilan pemain musik dan empat vokal. Perhatikan sebagian bait-baitnya.

Alam bersinar-sinar bersuka ria. Menyambut kelahiran al-Musthofa Ahmad.
Riang gembira meliputi penghuninya. Sambung-menyambung tiada henti.
Berbahagialah wahai pengikut Alquran. Burung-burung kemujuran kini berkicau.
Bersuluhan dengan sinar keindahan. Mengungguli semua yang indah tiada banding.

Kini wajiblah kita bersuka-cita. Dengan keberuntungan terus-menerus tiada habisnya.
Manakala kita memperoleh anugerah. Padanya terpadu kebanggaan abadi.
Bagi Tuhanku segala puji. Tiada bilangan mampu mencukupi.
Atas penghormatan yang dilimpahkan-Nya bagi kita dengan lahirnya. Al-Musthofa al-Haadi Muhammad.
Ya Rosulallah, selamat datang…

Mauludan di Radar Semarang (dan kelak di Radar Kudus) tersebut menggunakan buku Diba’ karangan Syeh Abdurrahman Addiba’i. Biasa disebut diba’an. Di tempat lain ada yang menggunakan kitab Barjanji (disebut berjanjen) karya Imam Ja’far al-Barjanji. Intinya selawat dan sejarah Nabi. Semua berbahasa Arab. Sangat panjang. Ya, seperti di langgar-langgar. Di kampung-kampung yang setiap malam di bulan Maulud ini mengalun.
Saya berusaha mengartikan dan menjelaskan sebagian. Yang penting-penting saja. Agar semua tahu. Itu sudah memakan waktu dua jam.

Tidak semua karyawan familiar dengan selawatan. Tapi saya mencoba menghadirkan di kantor. Toh hanya setahun sekali. Taruhlah sebagai hiburan. Sambutannya luar biasa. Beberapa karyawan berebut menyumbang.

Seorang wartawan menawarkan diri untuk menanggung dua pertiga biaya. Beberapa orang menyodorkan angka lima ratus ribuan. Ada yang menyediakan makan untuk seluruh karyawan. Sampai-sampai seorang karyawan non muslim meminta izin agar diperbolehkan menyumbang dana. “Puji Tuhan, saya diperbolehkan ikut,” kata Maria Novena. Itulah kebersamaan.

Di Radar Kudus ada 40-an karyawan yang menyatakan ingin menjadi pendonor. Acaranya masih tanggal 20 November. Pesertanya kemungkinan lebih banyak. Seluruh loper yang mengedarkan koran Jawa Pos Radar Kudus diundang. Mereka butuh hiburan rohani. Dimeriahkan grup rebana juga. Dari IAIN Kudus.

Semua keinginan untuk menyumbang itu ditampung. Kemudian dikerucutkan. Dikembalikan ke masa lalu. Semua karyawan diimbau untuk membawa makanan ringan untuk dibagikan kepada karyawan lain. Makanan ditaruh di keranjang-keranjang kecil. Di Kudus dan sekitarnya, namanya nanya. Dulu isinya ketan dengan taburan serundeng di atasnya. Untuk golok-golok mentok. Tradisi selamatan memeriahkan acara mauludan.

Di Kendal, tradisi mauludan dengan membagi-bagikan makanan itu disebut weh-wehan. Warga menyediakan makanan untuk dibagikan kepada warga lain. Di Pati tradisi mauludan disebut Meron. Di Solo – Jogja Sekatenan. Di Boyolali dan sekitarnya acara Sadranan.
Dengan aneka makanan yang dibawa karyawan, acara menjadi gemebyar. Apalagi ditambah iringan musik rebana. Jadinya, riang-gembira. Suasana yang mesti tercpita sebagai ungkapan menyambut pemimpin umat yang didamba-dambakan. Ini sekaligus menghidupkan budaya yang belakangan nyaris punah.

Saya tidak berusaha mengagamakan perusahaan. Apalagi menanamkan fanatisme tertentu. Bagi saya perusahaan tetap moderat. Menghargai semua umat beragama. Membebaskan karyawan melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya.

Yang ingin saya ungkapkan, acara spiritual itu penting. Saya sampaikan kepada karyawan, manusia itu terdiri atas dua dimensi. Lahiriah dan batiniah. Keduanya butuh asupan. Kalau keduanya tercukupi, hidup jadi lebih kuat.

Saya menangkap ada keinginan kuat untuk memenuhi dua kebutuhan tersebut. Saya yakin kalau terpenuhi hidup bakal lebih antusias. Bekerja pun bersemangat. Cobalah di lingkungan kerja Anda. (hq@jawapos.co.id)