SERING DISANGKA SEORANG SOPIR

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah, Hadi Santoso, S.T, M.Si

283

RADARSEMARANG.ID, TIDAK selamanya anggota DPRD itu selalui identik dengan gaya borjuis. Kalau tidak kenal, orang akan salah sangka dengan pria ini. Hadi sering terlihat duduk di teras Gedung Berlian bersama para sopir atau ke kantor dengan ojek online. Gaya pakaiannya juga biasa. Baju polos berkerah dengan tas punggung menjadi seragam sehari-hari.

WAKTU KELUARGA : Hadi Santoso saat berlibur ke pantai bersama ketiga anaknya. (IST)
WAKTU KELUARGA : Hadi Santoso saat berlibur ke pantai bersama ketiga anaknya. (IST)

Hadi mengaku punya pengalaman menggelikan yang membuatnya selalu tertawa saat teringat. Dengan penampilan sehari-hari, ia disangka seorang sopir oleh salah satu staf kecamatan di tanah kelahirannya, Kabupaten Wonogiri. Ceritanya, ia hendak menyambangi salah satu kantor kecamatan hanya untuk menanyakan soal kegiatan perekaman e-KTP (KTP elektronik). “Mas, parkire nang njobo, yang ini kanggo pak camat karo tamu,” katanya menirukan perkataan petugas kecamatan. Perintah yang segera ia ikuti.

Sampai di kantor camat, Hadi langsung menanyakan soal perkembangan e-KTP di wilayah tersebut. Kontan saja, salah satu staf kecamatan merasa terusik dengan pertanyaan itu. “Saya nanya kok malah dijawab : Wong sing dewan wae ora takon, kok malah sopire takon terus,” ungkapnya sembari menirukan perkataan salah satu staf tersebut.

Ia hanya bisa tersenyum sambil membungkuk hormat sesaat setelah mendengar jawaban itu. “Bahkan sampai sekarang, saya masih sering dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Mungkin dipandang rak pantes dadi dewan. Bahkan awal di DPRD pernah diusir oleh teman anggota (Dewan) saat ambil buku APBD. Katanya, jangan main ambil, khusus bagi DPRD, kata temen,” kenangnya sambil tersenyum.

Saat pelantikan periode ketiga, ia bahkan sempat dihalangi masuk oleh petugas kepolisian yang membantu pengaturan parkir di Gedung DPRD Jateng. Mungkin karena polisi tersebut tidak pernah tugas di Gedung Berlian. “Saya ndak boleh masuk katanya untuk parkir VIP dan Dewan yang akan dilantik. Untung ada staf yang lihat dan dibantu masuk,” tambahnya.

Meski begitu, ia tetap berbesar hati dengan semua anggapan banyak orang tersebut. “Justru malah senang, karena berarti pesan bapak saya bisa saya laksanakan, dadi wong opo anane wae,” tambahnya. (fth/ton)