Seperti Ini Kiprah Komunitas Sulbi yang Mengedukasi Anak Disabilitas

193
PEDULI SOSIAL: Relawan Sulbi Indah Kurniasih dan Rahma Purnama Sari bersama anak disabilitas. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SOSIAL: Relawan Sulbi Indah Kurniasih dan Rahma Purnama Sari bersama anak disabilitas. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Relawan Komunitas Sulbi atau Sahabat Unik Luar Biasa memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap anak-anak penyandang disabilitas. Mereka selalu mendampingi para difabel agar dapat berinteraksi dengan lingkungannya.

RADARSEMARANG.ID, TAK banyak orang yang punya rasa peduli terhadap para penyandang disabilitas. Kekurangan yang dimiliki memang bukan kehendak dari mereka. Di Semarang ada komunitas kecil yang mempunyai rasa kepedulian terhadap penyandang disabilitas itu. Namanya Komunitas Sulbi. Relawan komunitas ini adalah mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Semarang. Mulai Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, hingga Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Komunitas peduli disabilitas ini kerap mengadakan kegiatan sosial di lingkungan Meteseh, Tembalang, Semarang.

Mereka mengedukasi anak-anak penyandang disabilitas untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan. Anak-anak itu penderita gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan penderita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.  Jawa Pos Radar Semarang sempat bertemu dengan relawan Sulbi di kedai dekat kampus Undip Tembalang. Tawa salah satu anak asuh Sulbi menyambut koran ini. Uluran tangan mungil anak penyandang disabilitas memulai percakapan. “Salim,” ucapnya sambil menjulurkan tangan kanannya. “Itu tandanya kalau dia suka,” timpal Indah Kurniasih, Ketua Sulbi kepada koran ini.

Pendampingan yang Sulbi lakukan berupa terapi sederhana, seperti mewarnai untuk merangsang kreasi mereka dengan berbagai macam warna. Untuk pendampingan tersebut, Sulbi memiliki referensi tersendiri, jadi tidak asal memberi pendampingan.

Indah menjelaskan, jika untuk melakukan interaksi dengan anak difabel itu tidak bisa sembarangan. “Mereka berbeda dengan anak pada umumnya. Kami ada buku khusus. Dari situ kami tahu bagaimana caranya mengasuh anak yang baik, kami juga konsultasi ke orangtua para difabel untuk lebih memahami karakteristik anaknya,” ucapnya.

Indah bercerita, sebelumnya Sulbi hanyalah wadah bagi anak-anak difabel beserta orangtuanya. “Kami memberikan ruang bagi mereka untuk berinteraksi dengan kita, kemudian berkreasi. Kami juga belajar dari mereka,” kata Indah sembari memesan minuman di kedai tersebut.

Sulbi kerap mengadakan pendampingan di Meteseh, Tembalang pada kelompok difabel dan panti. Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk menambah kedekatan mereka dengan anak-anak asuhnya. “Kami biasanya lebih banyak diskusi dengan orangtuanya juga. Jadi, kami ada kelompok-kelompok orangtua. Biasanya kami kumpulkan di kelurahan, berembuk sama orangtuanya,” ujar alumni Unnes ini.

Anggota Sulbi Rahma Purnama Sari menjelaskan, jika pergerakan Sulbi ini masih di lingkup Kota Semarang. Namun tak jarang ada anggota penyandang disabilitas dari luar kota turut bergabung. “Ada juga yang ikut dari luar kota. Seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan juga ada. Kami juga menjelaskan pada mereka bahwa kegiatan kami masih di lingkup kota, belum bisa sampai luar Semarang. Terutama untuk pendampingan anak difabel ini,” ujar mahasiswi Pascasarjana Unnes ini.

Saat koran ini berbincang dengan Rahma dan Indah, seorang anak disabilitas sempat menyela pembicaraan. Rupanya dia merasa tertarik pada minunam coklat yang ada di meja. Dicobalah minuman itu, namun mimik wajahnya mulai berubah. Dia tidak menyukai minuman itu. “Itu perasaan mereka, kita harus bersabar menghadapinya. Perasaannya mudah berubah. Kita harus menghadapinya dengan halus, kalau dibentak mereka malah akan lebih menjadi,” ucapnya.

Banyak cerita unik yang dialami para relawan Sulbi. Mereka bisa mengetahui berbagai macam karakter anak disabilitas. Ada yang lucu, menggemaskan, ada juga yang membuat jengkel.  “Kemampuan mereka juga beda-beda. Saya punya pengalaman unik saat membuat rujak buah. Salah satu anak asuh kami kan makan buah, dia itu masih ngeces. Tiba-tiba disuapin ke mulutku,” cerita Rahma sembari tertawa mengingat peristiwa tersebut.

Atik Supriyati, orangtua salah satu penyandang disabilits sangat terbantu dengan adanya relawan Sulbi. Ia merasa tidak minder lagi, dan dapat berinteraksi dengan anaknya lebih baik. Ke depannya, Atik menginginkan agar Sulbi menjaga semangat para relawan.  ”Anak saya senang sekali, tiap ada pendampingan sama temen-temen Sulbi ini.
Sulbi ya harus selalu hadir untuk membantu kami, ditingkatkan juga intensitasnya,” ujarnya.

Atik tidak bisa membayangkan kesulitan yang akan dialami jika tidak ada Sulbi. Ia telah banyak termotivasi atas hadirnya Sulbi, terutama di Meteseh.(riyan/aro)