Ecobrick Jadi Pengisi Senggang saat Bekerja

Eko Gustini Wardani Pramukawati, , ASN yang Peduli Lingkungan

538
MANFAATKAN SAMPAH PLASTIK: Eko Gustini Wardani Pramukawati saat memadatkan ecobrick di meja kerjanya.(RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANFAATKAN SAMPAH PLASTIK: Eko Gustini Wardani Pramukawati saat memadatkan ecobrick di meja kerjanya.(RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Sembari menjalankan pekerjaannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), Eko Gustini Wardani Pramukawat, selalu menyempatkan waktu untuk membuat ecobrick. Karya kreatif yang memanfaatkan botol kemasan air mineral ini merupakan salah upayanya ikut berperan dalam mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan.

SIAPA yang tak kenal Eko Gustini Wardani Pramukawati? ASN ini sangat aktif di berbagai kegiatan. Mulai kegiatan pramuka, dharma wanita, termasuk kegiatan peduli lingkungan. Eko juga dikenal sebagai pelatih dalam pembuatan ecobrick yang sudah berlisensi. Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya di Pemprov Jateng, terlihat botol kemasan air mineral yang separuhnya sudah terisi sampah plastik. Botol itu berada di sekitar meja kerjanya. “Botol ini belum saya padatkan,” ujarnya sembari tersenyum ramah.

Tidak ada rasa canggung ataupun malu saat mengumpulkan sampah plastik. Dari meja-meja lain di dekat meja kerjanya. Tak jarang ia berbicara pada rekan kerjanya, hanya untuk meminta sampah plastik bekas makanan. “Plastik di dalam botol ini saya padatkan saat saya ada waktu luang,” tuturnya.

Botol berisi plastik bekas itu diambil lalu ditunjukkan kepada koran ini. Ia berseloroh bahwa tidak mau menyebut plastik-plastik itu sebagai sampah. Konsep ecobrick itu sebenarnya hanya untuk menampung plastik-plastik di sekitar. Agar plastik bekas tersebut bisa terkunci, tidak mengotori lingkungan. “Jadi, plastik tidak terbuang sia-sia, intinya ke sana,” tegasnya.

Obrolan dengan warga Perumahan Bhakti Persada Indah (BPI) Kelurahan Purwoyoso RW 8, Kecamatan Ngaliyan, Semarang ini semakin hangat, kala lagu-lagu bernuansa Jawa terdengar dari speaker di sudut-sudut ruangan. Ia juga menerangkan, jika banyak orang saat ini keliru dalam membuat ecobrick. Mereka tidak memperhatikan komposisi dalam pembuatannya.

Dijelaskan, berat minimal untuk ecobrick itu 1/3 dari kapasitas berat botol. Misalnya, botol memiliki kapasitas 600 ml, minimal berat isiannya 200 gram. “Rata-rata saya bikinnya bisa 300 gram sampai 340 gram. Itu untuk menjaga kekuatan ecobrick . Isinya dari kombinasi sampah keras dan lembut. Sampah keras itu seperti plastik sachet minuman, sedangkan sampah lembut itu seperti plastik kresek,” jelas wanita yang juga jago menulis ini.

Selain di kantornya, lingkungan sekitar rumahnya juga telah menerapkan konsep ecobrick untuk menjaga lingkungan. Eko sebagai salah satu penggagas ecobrick di RW 8 Perumahan BPI. Ia telah memiliki lisensi resmi langsung dari Kanada, tempat ecobrick itu ditemukan. Karenanya, ia sering mengisi berbagai pelatihan ecobrick di berbagai daerah.

“Itu sudah saya lakukan sejak lama. Kami juga sudah bikin sofa dari ecobrick. Ke depan, kami akan membuat taman ecobrick. Masing-masing warga mengumpulkan plastik-plastiknya sendiri nanti kalau sudah penuh diserahkan ke kami untuk dijadikan taman hijau ecobrick,” ucapnya.

Ada sebuah kursi ecobrick di belakang meja kerjanya. Ia menunjuk dan sembari menjelaskan jika kursi ecobrick itu biasanya menjadi tempat duduk anaknya. Saat menemaninya di kantor. Ia juga bercerita jika di Balai RW-nya juga ada satu set sofa yang terbuat dari ecobrick.

“Sekarang warga pelit, setelah tahu ecobrick itu bisa dibikin sofa dan sebagainya. Warga masing-masing malah bikin sendiri, jadi ecobrick untuk keperluan umum jadi terkesampingkan,” tuturnya dengan nada lirih.

Sesuai nama belakangnya, Eko memiliki background pramuka. Itu yang membuatnya sangat mencintai lingkungan. Di lingkunganya, ia juga sebagai Ketua Purwoyoso Kepedulian Lingkungan Bhakti Persada Indah (Proklim Purwokeling BPI), yang selalu menggalakkan penghijauan. Bahkan, Sabtu (30/11) besok, ia akan menerima Penghargaan Proklim Utama Tingkat Jawa Tengah di Kebumen.

“Gerakan menanam saat ini sangat bagus di lingkungan saya. Bagi yang tidak memiliki lahan yang banyak, mereka membuat hidroponik. Setiap RT minimal sudah punya 1,” ujarnya.

Baginya, menanam itu bukan hal yang baru. Sembari menunjukkan berbagai prestasi di bidang lingkungan yang diraih. Ia menjelaskan jika sebelum banyak orang berbicara tentang penghijauan, ia sudah membuat banyak sumur resapan biopori, serta menanam berbagai macam tumbuhan di lingkungannya.

“Saya sering berbincang dengan tanaman, hei tanduran tak sirami yo, terus sing subur. Kita ada komunikasi dengan alam. Terserah orang lain kalau mau bilang ibuke kok edan,” ujarnya sambil tertawa.

Eko berharap jika masyarakat harus tetap melakukan penghijauan. Baik di lahan yang sempit, luas, maupun dalam kondisi apapun. “Setiap lahan itu bisa kita manfaatkan, asal kita mau,” tandasnya. (riyan fadli/aro)