Ciptakan Karya Kreatif, Dekatkan Siswa dengan Lapangan Pekerjaan

206
GURU KREATIF: Guru SMK Negeri 11 Semarang Sindhu Lintang Pramudya, pemilik rumah produksi dan animasi Animart.Tion.(Maria Novena SINDUWARA/Jawa Pos Radar Semarang)
GURU KREATIF: Guru SMK Negeri 11 Semarang Sindhu Lintang Pramudya, pemilik rumah produksi dan animasi Animart.Tion.(Maria Novena SINDUWARA/Jawa Pos Radar Semarang)

Sindhu Lintang Pramudya bukan guru biasa. Guru SMK Negeri 11 Semarang ini berkontribusi mencetak generasi kreatif lewat rumah produksi dan animasi yang didirikannya. Namanya Rumah Produksi dan Animasi Animart.Tion di Ungaran, Kabupaten Semarang.

MARIA NOVENA SINDUWARA, Ungaran, RADARSEMARANG.ID

RUMAH Produksi dan animasi Animart.Tion didirikan pada 2011. Ide itu tercetus setelah Sindhu Lintang Pramudya diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara atau dulu PNS. Bermula saat Sindhu —sapaan akrabnya—merasakan pertemuannya dengan siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah dinilai relatif singkat. Dalam seminggu hanya beberapa jam saja.

“Setelah ditempatkan di SMK Negeri 11, saya merasa masih kurang ketika sesi pemberian materi. Anak-anak juga belum matang ketika menerimanya. Lalu saya ajak berdiskusi di rumah saya,” ceritanya kepada Jawa Pos Radar Semarang sambil menunjukkan hasil karya anak didiknya, Rabu (27/11).

Praktis, hampir setiap saat, dirinya mengorbankan rumahnya di Jalan Sulawesi, Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang untuk markas anak didiknya. Hingga kemudian tercetus mendirikan Rumah Produksi dan Pelatihan Animart.Tion.

Ia menceritakan, Animart.Tion hanya sebagai wadah para siswa untuk bertemu dunia kerja. Awalnya, ia hanya melatih siswanya membuat lukisan dengan media kanvas. Namun ia melihat nilai bisnis dari kanvas semakin tahun semakin menipis. Namun anak didiknya semakin tahun semakin bertambah.

“Dunia seni itu tidak ada matinya. Awal pertama saya lebih fokus di lukisan kanvas. Tapi kok malah sepi. Akhirnya beralih ke kaos. Dari kaos itulah anak-anak mengembangkan ke media kayu, dinding, 3D art, sampai sekarang sudah canggih lagi pakai komputer. Bisa langsung dijual,”lanjutnya.

Alumnus Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini selalu mengatakan kepada seluruh anak didiknya bahwa jiwa seni yang mereka miliki sebisa mungkin dibisniskan. Demi memperoleh bahan ia mengajarkan kemandirian. Bentuk apresiasi lewat memajangkan hasil karya siswa merupakan keharusan.

“Seni itu selalu dibutuhkan. Saat ini yang harus terus dikembangkan itu tempat untuk memajang hasil karya seni anak-anak. Mereka pasti bangga, apalagi sampai dibeli akan semakin semangat belajar. Salah satu tujuan saya mendirikan rumah produksi ini untuk wadah. Hasil karya anak-anak bisa ditaruh di sini. Dijual bersama, nanti hasilnya juga dinikmati bersama, “kata ayah satu anak ini.

Selain penyediaan produk, anak didiknya bisa melihat, bahkan berlatih bersama. Harapannya ini jadi pusat pengembangan potensi anak-anak muda. Juga untuk mendekatkan siswa dengan lapangan pekerjaan.

Dikatakan, di Animart.Tion ada dua bidang yang dikembangkan, yakni di bidang seni lukis dan modelling. Produk pengembangan seni lukis di antaranya ada kaos, kanvas, kaca, tas, hingga sepatu. Sementara untuk modelling seperti patung, kostum karnaval, silikon, kayu, dan lainnya.

“Untuk harga antara Rp 125 ribu hingga Rp 150 ribu per kaos. Adapun hasil dari order, dibagi tiga, yakni honor kerja mereka, belanja bahan, dan kas mereka. Mereka saya ajarkan mulai dari nol sampai selesai. Saya hanya melihat, dan mengingatkan kalau ada yang salah. Tanggung jawab ada di mereka sepenuhnya,”ungkap pria berusia 35 tahun ini.

Sampai sekarang rumah produksi dan animasi Animart.Tion masih terus berjalan. Yang terlibat tidak hanya siswa SMK Negeri 11 Semarang saja. Tapi juga mahasiswa Unnes, ISI, hingga ITB juga terus berdatangan. Nama Animart.Tion juga dikenal hingga ke luar negeri. (*/aro)