Mengoleksi Wayang Asli Kedu, Berusia Lebih dari Satu Abad

Mengunjungi Museum Wayang Pondok Tingal Borobudur

159
WAYANG TERTUA : Wakil GM Pondok Tingal Borobudur yang juga cucu dari H Boediardjo, Tandang Satoto, menunjukkan koleksi wayang tertua berusia lebih dari 100 tahun. (kanan) Pengunjung melihat koleksi wayang di Museum Wayang Pondok Tingal. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)
WAYANG TERTUA : Wakil GM Pondok Tingal Borobudur yang juga cucu dari H Boediardjo, Tandang Satoto, menunjukkan koleksi wayang tertua berusia lebih dari 100 tahun. (kanan) Pengunjung melihat koleksi wayang di Museum Wayang Pondok Tingal. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Kiprah alm H Boediardjo, mantan Menteri Penerangan era Presiden Soeharto tidak diragukan lagi dalam bidang seni dan budaya. Kecintaannya kepada seni wayang dibuktikan dengan mengoleksi berbagai wayang di museum wayang miliknya di Pondok Tingal Borobudur. Seperti apa?

AGUS HADIANTO, RADARSEMARANG.ID

Museum Wayang Sasana Guna Rasa berada di kompleks Pondok Tingal Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang yang berdiri pada tahun 1991. Letaknya di bagian belakang, tepatnya pojok sebelah kiri dari kawasan Pondok Tingal. Bangunan museum wayang sendiri bergaya joglo berukuran seluas 1.500 m2. Ketika masuk pertama kali, akan disambut deretan wayang yang dipajang.

Beberapa wayang yang menjadi koleksi museum berasal dari seluruh Nusantara dan juga luar negeri. Museum ini juga memiliki ratusan buku tentang wayang dari berbagai bahasa sebanyak 694 judul. Kaset rekaman wayang dari tahun 1971 hingga 1994 sebanyak 81 buah. Serta rekaman video pergelaran wayang sejak 1980 hingga 1990 sebanyak 59 buah. Kesemuanya merupakan koleksi R Boediardjo selama hidupnya, putra asli Magelang yang lahir pada 16 November 1921.

Koleksi wayang tertua, juga dimiliki oleh Museum Wayang, yakni wayang asli kedu yang berusia lebih dari satu abad, sekitar tahun 1880. Wayang ini disimpan di dalam kotak dan jarang dipentaskan kecuali sesuai keinginan dalang dari Kedu.

“Wayang kedu ini jarang dikeluarkan. Terakhir kemarin sekitar tiga bulan yang lalu karena atas permintaan dalang dari Parakan Temanggung, pentas rutin di Pondok Tingal. Kebetulan dalang tersebut sudah sepuh dan maunya pakai wayang itu,” kata GM Pondok Tingal yang juga cucu dari R Boediardjo, Muhammad Reza Rabu (6/11) saat Jawa Pos Radar Semarang mengunjungi museum wayang.

Reza mengungkapkan, wayang kedu ini merupakan koleksi kesayangan kakeknya karena berusia sangat tua. Wayang ini merupakan cikal bakal wayang model Surakarta dan Jogjakarta.

“Kalau melihat sejarahnya, wayang kedu lahir sebelum wayang Surakarta dan Jogjakarta. Wayang kedu terbuat dari kulit kerbau asli beserta campurit atau pegangan terbuat dari tanduk kerbau. Sangat detail dalam pembuatannya,” imbuhnya.

Reza menyebutkan, selain itu koleksi di museum yakni wayang Sasak, Bali, Jawa Timur, wayang gaya Surakarta, gaya Jogjakarta, Kedu, Banyumasan, Cirebonan, Wayang Golek Sunda, Wayang Magelangan. Ada juga Wayang Pancasila, Wayang Kulit Budha, Wayang Serangga, Wayang Batik, Wayang Ukur, Wayang Klitik hingga Wayang Suket. Ada juga koleksi wayang dari luar negeri seperti China, Turki dan Kamboja.

“Untuk wayang dari China, komplit beserta lemari besar yang didatangkan dari China. Dulu wayang dari China ini pernah berada atau dipinjam museum Fatahillah Jakarta, kemudian dikembalikan ke Kakek,” tuturnya.

Ada juga satu koleksi wayang kulit Gatotkaca gaya Surakarta yang merupakan pemberian dari Presiden Soekarno. Museum Wayang sendiri, kata Reza juga terdapat beberapa lukisan kaca gambar wayang karya Rastika dari Cirebon. Koleksi wayang kulit di Museum Wayang, selain dipajang, ada juga yang disimpan dalam kotak wayang.

Adapun yang berada di kotak wayang ada 11 kotak antara lain wayang Kedu 1 kotak, gaya Surakarta, wayang gaya Jogjakarta (3), 1 kotak wayang Kidang Kencono. Kemudian 1 kotak wayang Menak, 1 kotak wayang Klitik, 1 kotak wayang Campuran, 1 kotak wayang Golek Sunda dan 1 kotak wayang golek China.

Di museum juga terdapat koleksi dua pangkon gamelan perunggu. Tiap sebulan, tepatnya pada Sabtu minggu keempat, pihaknya menyelenggarakan pementasan wayang kulit pakeliran padat, dan ditujukkan untuk masyarakat umum secara gratis.

“Pentas wayang kulit pakeliran padat ini sudah berlangsung sejak 1991-nan. Sekarang sudah memasuki pementasan yang ke-267. Untuk sementara ini masuk museum wayang masih free. Biasanya, mereka yang nginap di sini melihat di museum. Ada juga dari pelajar maupun turis yang melihatnya. PR ke depan, akan membuatkan katalog berisi koleksi yang ada di museum,” ucapnya.

Sementara Wakil GM Hotel Pondok Tingal yang juga cucu R Boediardjo, Tandang Satoto menambahkan, pementasan pakeliran padat berlangsung mulai pukul 21.00 sampai pukul 00.00 WIB. “Bulan lalu, pakeliran padat dengan mementaskan wayang gaya Kedu,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah Sinung Nugroho Rachmadi yang beberapa waktu lalu sempat berkunjung di museum wayang mengatakan, keberadaan museum ini sangat menarik. Museum wayang ini, bagi Sinung, sungguh sangat luar biasa karena ada beberapa koleksi wayang yang unik seperti wayang Serangga.

Bahkan Sinung mengapresiasi adanya pementasan pakeliran padat tiap bulan. Pementasan ini bagian dari menjaga budaya wayang dan masih bisa dikemas. “Ini harusnya dijadikan salah satu destinasi study tour. Kalau diperbanyak brosur, nanti beberapa dinas maupun paket wisata diberitahu. Jadi tersaji dulu ada destinasi museum wayang. Ini keren, apik. Tinggal brosur atau liflet yang banyak disebar. Kalau kita punya museum wayang,” tukasnya. (*/lis)