Berteman dengan Masuk Angin, Berharap Ada Perbaikan Kantor

Menilik Perjuangan Petugas PMK Sektor Barito Semarang Timur

113
BUTUH BANGUNAN LAYAK : Bangunan terbuka kantor PMK Sektor Barito yang terbuka di Rejosari, Semarang Timur. (DEWI AKMALAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUTUH BANGUNAN LAYAK : Bangunan terbuka kantor PMK Sektor Barito yang terbuka di Rejosari, Semarang Timur. (DEWI AKMALAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Menjadi petugas pemadam kebakaran (Damkar) tentu sebuah perkerjaan mulia. Bertaruh nyawa melawan api membara untuk menyelamatkan jiwa dan harta benda warga merupakan dedikasi mereka. Bagaimana dengan petugas di Pos Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Semarang Sektor Barito, Semarang Timur.

DEWI AKMALAH, RADARSEMARANG.ID

DI tengah musim kemarau yang melanda hampir di seluruh Indonesia, termasuk Semarang, sirene pemadam kebakaran (Damkar) kerap wara-wiri terdengar di telinga masyarakat. Bahkan, sehari mobil Damkar ini bisa bolak-balik untuk memadamkan kebakaran di lima tempat kejadian yang berbeda. Tentu saja, tenaganya kerap serasa diperas demi tujuan luhur untuk menyelamatkan nyawa dan harta benda masyarakat dari kobaran api yang menyala.

Agus Setiawan selaku Komandan Regu 4 Pos Pemadam Kebakaran (PMK) Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang sektor Semarang Timur (Barito) mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki 23 petugas damkar termasuk pengemudi. Semua terbagi dalam empat regu. Masing-masing regu diisi oleh empat hingga tujuh petugas. Mereka bertugas bergantian berdasarkan shift, bisa pagi, siang, dan malam. Dengan jumlah anggota yang banyak, kami hanya memiliki bangunan terbuka ini dengan satu ruangan untuk kamar mandi dan satu ruangan untuk menyimpan loker barang serta tempat salat.

“Bangunan ini terbuka di keempat sisinya. Tidak ada tembok yang dibangun sebagai benteng. Hanya beratap seng untuk melindungi tim dari rintik hujan dan panasnya hawa siang hari,” tuturnya.

Bangunan sederhana di atas lahan seluas kurang lebih 12×10 meter persegi ini sebenarnya dilengkapi peralatan pemadam api canggih. Namun karena keterbatasan ruangan, seluruh anggota tim tidak mampu beristirahat dengan layak. Hanya bisa mengandalkan ruang penyimpanan loker dan tempat salat yang kecil. Sayangnya, hanya mampu menampung dua orang untuk tidur. Sedangkan sisanya menggelar karpet di bangunan terbuka untuk sekedar istirahat atau rebahan.