Beranda Rubrikasi Feature Rela Blusukan, Cari Anak Asuh, Antarkan Jadi Owner  

Rela Blusukan, Cari Anak Asuh, Antarkan Jadi Owner  

0
Rela Blusukan, Cari Anak Asuh, Antarkan Jadi Owner  
BERJUANG UNTUK SESAMA : Dianty Lulik Indriyani bersama anak asuhnya di butik yang berada di daerah Badak sekitaran Masjid Agung Jawa Tengah.(Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)

Ia harus blusukan hingga ke pelosok desa-desa di Temanggung untuk mencari anak asuh. Terutama lulusan SMK yang memiliki kemampuan dasar menjahit. Tujuannya, mengajari mereka. Sampai mereka bisa membuka usaha sendiri dan merekrut orang di daerahnya.

SIGIT ANDRIANTO, RADARSEMARANG.ID

TERBUKTI, sudah ada 3 anak asuhnya yang berhasil membuka butik. Menjadi owner. Dan kini, ada 7 anak asuh lulusan SMK negeri di Temanggung yang masih ikut dengannya.

Bukan secara instan ia bisa membawa anak-anak ke rumah kontrakan dua lantai yang disulap menjadi butik. Butik sekaligus sebagai tempat tinggal para anak asuh ini. Mencapai titik ini, perempuan yang akrab disapa Dian ini harus melalui perjuangan yang cukup melelahkan.

Bermula saat ia memutuskan untuk usaha menjahit di tahun 2005. Keinginan untuk mengembangkan bisnis sangat besar di benaknya. Sayang, ia harus berpindah dari satu kota ke kota lainnya karena ikut tugas suami. Setiap pindah ke kota yang baru, ia harus memulai dari nol. Dari awal.

”Pernah, sudah mulai besar. Sudah punya karyawan 5 orang. Tapi karena harus pindah, ya terpaksa mereka tidak bisa ikut. Karena mereka juga memiliki keluarga yang tidak bisa ditinggalkan,” kenangnya.

Kembali, ia harus berjuang sendirian merintis bisnisnya di kota yang baru. Terhitung ada enam kota yang pernah ia jajaki untuk bisnis butiknya. Medan, Purwokerto, Malang, Bandung, Jogjakarta, dan Semarang. Hingga kini ia mulai menetap dan menemui jalannya di Semarang.

”Saya mulai lagi. Semuanya saya lakukan sendiri. Mulai motong jahit, pengiriman saya lakukan sendiri,” ujar perempuan yang kini dipercaya membuat pakaian saat ada acara presiden dan menteri di Semarang. Juga mensupport acara Denok Kenang Semarang.

Bahkan saat itu, saking pengennya maju, ia rela beberapa hari tidak tidur untuk nglembur pakaian yang harus ia selesaikan. Dikerjar deadline dan berjuang sendirian. ”Saya harus ngumpet-ngumpet, karena suami pengennya waktu istirahat ya saya istirahat. Bahkan, sampai mengancam ’tidur atau saya matikan lampunya? Karena saking sayangnya mungkin ya,” ujarnya menceritakan.

Sedikit demi sedikit, bisnis di Semarang mulai berkembang. Ia mulai menambah mesin jahit dari yang mulanya hanya ada satu pemberian mertuanya. Ia juga mulai merekrut karyawan satu demi satu.

Dari sini ia mulai berniat untuk menolong orang. Ia memperkerjakan anak yatim dan anak yang dinilainya membutuhkan. Dan lagi, sayang, kebaikannya ini membuatnya harus menelan pil pahit karena ia justru dimanfaatkan karyawannya. ”Akhirnya saya pulangkan mereka,” kenangnya.

Sakit hati. Tapi tidak membuat niatnya membantu sesama luntur. Teringat anak PKL di tempat rekannya, ia mulai melakukan survei di daerah Temanggung. ”Teman saya menerima PKL dari daerah-daerah gitu. Kemudian saya coba cari juga ke sana,” kata dia.

Ia kemudian blusukan hingga bertemu 3 orang yang kini sudah ia antarkan menuju jalan suksesnya. ”Awal itu saya ambil tiga dan mereka sudah menjadi owner sekarang,” ujarnya sembari senyum bangga.

Tiga anak ini membuatnya kian bersemangat untuk memberdayakan. Seperti ketagihan. Sebab, selama memberdayakan anak-anak yang dinilainya membutuhkan, ada banyak perubahan yang ia rasakan dalam kehidupan maupun bisnisnya.

”Saya merasa ada berkah. Dari mereka, ketika saya dekati, saya menemukan bahwa masih ada yang makan ayam cuman ketika Lebaran saja. Dari situ saya ingin mengulurkan tangan untuk mereka,” jelasnya.

Ia mengaku, akan terus mencari anak-anak asuh yang bisa ia didik untuk berhasil. Setidaknya menjadi mandiri dan bisa memperkerjakan orang lain. Di tanya sampai kapan, ia menjawab, sampai tidak mampu melakukannya lagi. ”Jangan sampai terputus,” ujarnya.

”Pokoknya berjuang. Bukan untuk saya sendiri. Tapi untuk mereka. Yang membutuhkan uluran tangan kita,” imbuhnya memungkasi. (*/ida)