Di saat Sakit Stroke, Gagasan dan Ide Seninya tetap Bergejolak

Djawahir Muhammad, Budayawan Penerima Anugerah Jawa Pos Radar Semarang

121
SANGAT BERKESAN: Budayawan Semarang Djawahir Muhammad saat menerima Anugerah Jawa Pos Radar Semarang, Senin (9/9).(NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)
SANGAT BERKESAN: Budayawan Semarang Djawahir Muhammad saat menerima Anugerah Jawa Pos Radar Semarang, Senin (9/9).(NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, Jawa Pos Radar Semarang menganugerahkan Lifetime Achievment kepada budayawan Djawahir Muhammad. Penghargaan ini sebagai tanda terima kasih atas perhatian dan dedikasinya terhadap dunia seni dan budaya Kota Semarang.

DEWI AKMALAH, RADARSEMARANG.ID

SOSOKNYA terkesan rapuh. Dengan didorong istri dan keluarganya, Djawahir Muhammad yang duduk di kursi roda mulai memasuki Gedung Rama Shinta Patra Semarang Hotel & Convention, tempat digelar Anugerah Jawa Pos Radar Semarang, Senin (9/9) malam. Ia sempat menyalami dan melambaikan tangan kepada semua orang yang menyapanya. Meskipun tanpa bicara, dia merasa bahagia, menurut penuturan Hartini, istri tercintanya.

Bagi siapapun yang berkecimpung dalam kesenian Jawa Tengah khususnya Semarang, tidak akan asing dengan sosok Djawahir Muhammad. Tak terhitung karya yang telah ia ciptakan. Mulai dari puisi, syair, novel, buku, serta skenario pertunjukan. Bahkan beberapa kali dirinya turut serta dalam pementasan yang ia tulis sendiri. Menurutnya, seni adalah jiwanya. Karya adalah hidupnya. Dan selama ia hidup, ia akan terus berkarya.

“Bapak itu seniman sejati. Kalau sudah mulai menulis atau membuat skenario tidak ada sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian bapak. Bahkan sampai lupa waktu. Seringkali bertengkar cuma untuk mengingatkan makan yang tidak pernah digubris beliau. Biasa ngeyel sak-sik,” ujar Hartini sambil tertawa.

Namun semua drama keluhan lupa waktu kepada bapak dua anak ini harus berhenti dua tahun lalu. Tepat sehari sebelum ujian tertutup disertasi miliknya pada Desember 2017 lalu. Djawahir jatuh sakit dan divonis stroke. Secara otomatis semua dunianya runtuh. Raganya tak lagi mampu berjalan sesuai dengan pikirannya. Meski ide dan gagasan terus bergejolak, namun apa daya tubuhnya tak lagi bisa diajak bekerja sama. Untuk bergerak saja terbatas, apalagi menulis.