Tempat Ibadah Dibangun Berdekatan, Rutin Gelar Acara Keagamaan

156
KAMPUNG TOLERANSI: Kemeriahan serah terima jabatan Ketua RT 2 RW 2, Kelurahan Karangayu antara Ong Budiono dengan Supriono, dihadiri seluruh warga secara terbuka. Melongok Kampung Toleransi di Kenconowungu I, Karangayu. (JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID)
KAMPUNG TOLERANSI: Kemeriahan serah terima jabatan Ketua RT 2 RW 2, Kelurahan Karangayu antara Ong Budiono dengan Supriono, dihadiri seluruh warga secara terbuka. Melongok Kampung Toleransi di Kenconowungu I, Karangayu. (JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID)

Indonesia Mini memang layak disematkan di kampung Kenconowungu I, yang terletak di RT 2 RW 2, Kelurahan Karangayu, Semarang Barat, Kota Semarang. Sekalipun penduduknya tidak banyak hanya berisi sekitar 25 kepala keluarga (KK), namun penuh dengan kedamaian, kerukunan antar warga dan sikap saling hormat menghormati tumbuh subur di kampung tersebut. Seperti apa?

JOKO SUSANTO, RADARSEMARANG.ID

KAMPUNG tersebut bahkan selalu menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, yang memiliki makna Berbeda-beda tetapi tetap satu. Hal itu dibuktikan setiap acara keagamaan yang ada dikampung tersebut, selalu merayakan secara rutin tahunan dengan penuh kekeluargaan. Seperti imlek, halal bihalal, nyepi, natal dan tahun baru ditambah acara perlombaan memperingati hari kemerdekaan setiap 17 Agustus.
Keunikan lainnya, kampung dengan jumlah penduduk sekitar 150 jiwa itu dihuni warga dengan empat agama, yang semuanya tak pernah bergesekan. Diantaranya ada agama Islam, Kristen, Khonghucu dan Katolik. Dari suku juga beragam, ada yang Jawa, Tionghoa, Batak dan Sunda.

“Kampung kami merupakan Indonesia mini karena berbagai entis dan suku dari berbagai wilayah tinggal di kampung ini. Bahkan sekalipun beragam perbedaan disini sikap toleran dan hormat menghormati selalu terjaga,” kata sesepuh warga Kelurahan Karangayu, Ong Budiono kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Agenda-agenda tahunan itu, lanjutnya, sudah diterapkan sejak sepuluh tahun lalu. Tujuannya untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga toleransi antar warga. Apalagi, lanjutnya, dikampungnya terdiri beragam, suku, agama, RAS dan golongan.
Tak dipungkirinya, sekalipun warga sudah sangat guyub dan rukun cobaan tersebut memang pernah terjadi. Saat itu, tepat ketika masih menjabat Ketua RT 2, Ong, dilaporkan oleh warga pendatang asal Jakarta, Setiadi Hadinata, karena jabatannya dituduh melakukan pemerasan iuran RT.