Bebaskan Anak Berimajinasi, Ajarkan Cinta Lingkungan

Mengenal Taman Belajar Sobat Kecil Semarang

141
MENYENANGKAN : Anak-anak diajarkan melukis dengan memanfaatkan barang bekas. Kegiatan melukis dan menggambar dilakukan di ruang terbuka. (ISTIMEWA)
MENYENANGKAN : Anak-anak diajarkan melukis dengan memanfaatkan barang bekas. Kegiatan melukis dan menggambar dilakukan di ruang terbuka. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, Belajar tidak melulu harus di ruang kelas. Belajar dapat dilakukan di mana saja. Di ruang terbuka, lewat seni dan dengan cara yang menyenangkan. Itulah yang dilakukan pegiat kolektif Taman Belajar Sobat Kecil bersama anak-anak di Semarang.

Sigit Andrianto

 

Bisa dikatakan sebuah gerakan. Sebenarnya fokus utamanya adalah untuk mengampanyekan cinta lingkungan. Kegiatannya pun sangat lekat dengan kecintaan pada lingkungan. Seperti melukis pemandangan alam, melukis dengan memanfaatkan barang bekas sebagai medianya, dan pembagian bibit pohon tanaman secara gratis untuk ditanam dan dirawat di rumah.

”Sekarang tidak hanya itu saja. Karena ada lapak baca juga. Buku-bukunya berasal dari donatur,” ujar penggagas gerakan ini, Pijar Arif, kepada RADARSEMARANG.ID.

Sesuai namanya, gerakan ini merangkul anak-anak dalam kegiatannya. ”Mengajarkan anak untuk mencintai lingkungan sejak dini,” katanya.  Sebab, Pijar menilai belum banyak aktivis lingkungan yang menyentuh anak-anak dalam kegiatannya berkampanye cinta lingkungan.

”Kebanyakan aktivis lingkungan merangkul para remaja atau mereka yang sudah dewasa. Sama-sama pentingnya, tapi saya melihat belum banyak yang merangkul anak-anak,” jelasnya kepada koran ini.

Kegiatan belajar bersama Taman Belajar Sobat Kecil banyak dilakukan di ruang terbuka. Di taman, di sawah maupun tempat lainnya yang asyik. Seringnya, dilakukan di Taman Sampangan Semarang. Mengenai hal ini, Pijar mengatakan bahwa belajar di taman terbuka akan membebaskan anak berimajinasi. Mereka akan bebas berkreasi.

”Tidak seperti di ruang kelas yang bisanya membuat anak menjadi terkotak-kotakkan karena imajinasinya dipangkas dan daya kreasinya dibatasi,” ujarnya.