Jalan Kaki Keliling Dunia Berbekal Rp 50 dari Presiden Sukarno

Meneladani Pejuang Kemerdekaan Kantong Sujono Djono

162
TELADAN : Keluarga membawa foto Kantong Sujono Djono.(TABAH RIYADI/RADARSEMARANG.ID)
TELADAN : Keluarga membawa foto Kantong Sujono Djono.(TABAH RIYADI/RADARSEMARANG.ID)

Puluhan prajurit TNI terlihat berbaris rapi di depan salah satu rumah berlanggam Jawa di Dusun Karanganyar, Desa Mojotengah, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Mereka mengiringi pemakaman salah satu pejuang kemerdekaan RI.

Tabah Riyadi, RADARSEMARANG.ID

Salah satu prajurit TNI AL membawa foto seorang pria tua, disusul di belakangnya seorang anggota TNI AD yang membawa sebuah karangan bunga. Selanjutnya empat prajurit membawa keranda berbalut Sang Saka Merah Putih. Di dalam keranda tersebut berbaring seorang veteran dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia 1945 Sujono Djono yang akrab dipanggil Kantong.

Di depan rumah, tampak tertempel sebuah tulisan latin yang ditandatangani Presiden RI pertama Sukarno. Bunyinya : Anakku Sujono! Bawalah badanmu keliling dunia. Tetapi tunjukanlah jiwamu tetap kepada Tuhan dan Indonesia”.

Edi Tahaniyanto, 62, salah seorang kerabat almarhum menceritakan, Kantong merupakan pejuang kemerdekaan yang bergabung dalam Tentara Pelajar selanjutnya menjadi prajurit TNI Angkatan Laut. “Kemudian pada tahun 1949 beliau minta pensiun dengan pertimbangan-pertimbangan yang saya tidak tahu. Kemudian dilanjutkan tetap berjuang dengan kewartawanan,” ucapnya.

Sebagai juru warta, ia memiliki keinginan keliling dunia yang akhirnya dilakukannya selama enam tahun. Sekembalinya di Indonesia, ia menerima hadiah dari Presiden RI pertama Sukarno dengan memilih mau tinggal di tempat yang ia suka. “Saat itu dia ditanya Sukarno, negara mana yang kamu suka. Beliau menjawab Jepang dan Amerika Serikat, kemudian beliau diperintah untuk bekerja di kedutaan Amerika,” terangnya.

Sebelum meninggal dunia pada 31 Januari 2019 di Washington DC Amerika Serikat, Kantong berkeinginan dimakamkam di tanah airnya. Pria kelahiran Temanggung 7 Juli 1927 ini dikenal sebagai bagian dari tiga pemuda Indonesia yang berani keliling dunia dengan hanya berbekal Rp 50.