Belajar Menulis di Sanggar Seni Lukis

409
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang

Sudah 34 tahun saya menjadi wartawan. Tapi, rasanya masih perlu terus belajar menulis. Lebih-lebih karena jurnalistik berkembang seiring perubahan zaman. Maka ketika kemarin mendapat informasi adanya pelatihan menulis esai, saya buru-buru mendaftar. Biayanya Rp 100 ribu untuk dua sesi teori dan praktik.

Saya tahu ada pelatihan itu secara kebetulan melalui salah satu grup WA. Waktunya sudah mepet. Pelaksanaan pukul 10.00. Sedangkan info saya dapatkan pukul 08.35. Tempatnya jauh lagi. Di Dusun Semambung, Desa Capang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Di Google Maps jaraknya 67 kilometer dari rumah saya di Sidoarjo.

Tidak ada keterangan lebih lanjut. Tapi, karena butuh, saya mencari informasi. Penyelenggaranya Komunitas Susastra Nusantara didukung Omah Padma. Melalui Google Maps saya temukan, Omah Padma adalah sanggar budaya dan pendidikan berbasis lingkungan. Bagi saya menarik. Belajar menulis di sanggar seperti pelukis.

Sanggar itu dibangun di atas tanah yang sangat luas. Sekitar 3.000 meter persegi. Tetumbuhannya rimbun. Lokasinya di kampung. Dari jalan raya Surabaya – Malang harus melalui jalan kampung tiga kilometer. Saya membayangkan betapa asyiknya berlatih menulis di sana.

Di sanggar tersebut terdapat rumah induk yang dipergunakan sebagai galeri. Yaitu, ruang pamer lukisan karya Yoes Wibowo. Seorang pelukis realis yang belakangan merambah aliran impresif, ekspresif, dan abstrak. Lukisannya banyak. Saya sempat malu pada diri sendiri ketika tahu tembok yang saya sandari ternyata tertempel lukisan di kanvas. Ada juga gazebo yang dipergunakan untuk belajar anak-anak, baik melukis maupun bahasa.