Meski Kalah, Sambutan Hangat Warga Mengharukan dan Menguatkan

Achmat Syarif, 18 Besar AKSI Indosiar 2016 yang Kini Jadi Dai

792
OPTIMISTIS : Achmat Syarif mengepalkan tangan saat bersama teman sekelasnya di Fakultas Ilmu Hukum, Unwahas Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OPTIMISTIS : Achmat Syarif mengepalkan tangan saat bersama teman sekelasnya di Fakultas Ilmu Hukum, Unwahas Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Lahir dari anak petani dengan kehidupan pas-pasan tak membuat Achmat Syarif putus asa. Berkat tekad kuatnya bisa masuk nominasi 18 besar AKSI Indosiar 2016. Kini jadi penceramah atau dai. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

BAGI penikmat stasiun televisi swasta tentu masih ingat program AKSI (Akademi Sahur Indonesia) yang tayang 2016 lalu. Achmat Syarif salah satu kontestannya. Namun, pria kelahiran, Batang, 23 April 1999 ini, sudah beberapa kali mencatat juara pada beberapa event besar tingkat Jawa Tengah dan nasional. Pertama kali saat masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tambakboyo, Batang selalu juara khitobiyah di sekolahnya. Bahkan, saat mengikuti lomba pidato tingkat Jateng di Kendal yang diadakan FUKAR (Forum Komunikasi Antar Anak Rifaiyah) berhasil juara harapan 1. Kemudian duduk di bangku SMP Negeri 3 Reban, selalu juara pidato. Puncaknya saat duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) Nahdatul Ulama (NU) O6 Cepiring, rutin mengikuti perlombaan dan selalu memboyong juara.

Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Kulari dan Siti Wasiah ini berhasil meraih juara 1 lomba pidato bahasa Jawa tingkat Jateng yang diadakan UIN Walisongo. Kemudian juara 2 se-Jateng lomba Dai Unisbank, juara 1 lomba puisi se-Jateng di Jepara, dan paling rendah adalah juara 1 se-Kecamatan Cepiring ajang lomba fashion show.

Sedangkan dalam AKSI, ia berhasil meraih 18 besar dari 38 peserta dari seluruh Indonesia. Untuk bisa membuktikan kemampuannya dalam ajang tersebut, tidaklah mudah. Semula mengikuti audisi di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Amanah, Kendal, tempatnya belajar. Dia bersaing dengan 50 kontestan lainnya. Namun yang lolos audisi hanya 2 orang, yakni dirinya dari Batang dan Ifti dari Tegal. “Selanjutnya ada seleksi lagi di Jakarta bersaing dengan ribuan kontestan dari seluruh Indonesia. Saya juga tak menyangka bisa lolos 38 besar se-Indonesia,” ujarnya.

Kendati begitu, mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) ini mengaku sempat bingung. Dirinya maupun orangtuanya tidak memiliki sedikitpun uang saku untuk ke Jakarta. Dirinya bersyukur Kepala Desa Tambakboyo, Sodikin memiliki jiwa sosial. Saat orangtuanya mengadu memang sempat ragu, karena dikhawatirkan penipuan. Namun setelah surat ditunjukkan, akhirnya Sodikin mulai percaya dan tanpa berpikir panjang, Syarif diajak menuju swalayan untuk dibelikan semua fasilitas manggung dalam AKSI.

“Tekad saya waktu itu ingin membuktikan, bukan cuma orang kaya dan mampu dari segi ekonomi saja. Namun sekalipun dari keluarga kurang mampu, saya pun bisa dengan berpedoman kesempatan Allah untuk semua umat tanpa ada pembeda,” kata Achmat Syarif kepada Jawa Pos Radar Semarang di kampusnya, kemarin.