Beranda Rubrikasi Feature Modal dari Tabungan, Omzet Rp 1 Juta per Hari

Modal dari Tabungan, Omzet Rp 1 Juta per Hari

0
Modal dari Tabungan, Omzet Rp 1 Juta per Hari
ENTREPRENEUR MUDA: Ricky Sanjaya dan Kevin Dendy bersama temannya (DOKUMEN PRIBADI).

Saat ini, Ricky Sanjaya dan Kevin Dendy tengah menimba ilmu di Jakarta. Namun sejak awal tahun ini, ia membuka bisnis kuliner bola ubi kopong atau Bobipong di kota kelahirannya, Semarang. Seperti apa?

YOBELTA KRISTI AYUNINGTYAS

MERINTIS bisnis baru yang produknya masih belum familiar di masyarakat memang tidak mudah. Ditambah lagi bisnis tersebut harus dikelola secara jarak jauh oleh dua mahasiswa ini, Ricky Sanjaya, 21, yang mengambil studi di Universitas Multimedia Nusantara Jakarta, dan Kevin Dendy, 21, yang kuliah di Universitas Pelita Harapan Jakarta. Dua pemuda Semarang ini nekat merintis bisnis kuliner camilan bola ubi di kota kelahiran mereka meski secara fisik keduanya banyak menghabiskan waktu di Ibu Kota.

“Awalnya, kami sempat mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara ngurus usaha ini sama kuliah. Tapi seiring berjalannya waktu, kami sudah mulai bisa ngebagi waktunya, karena dua-duanya harus berjalan seimbang,” ujar Ricky kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bisnis camilan bola ubi yang diberi nama Bobipong atau bola ubi kopong itu dirintis sejak 2 Juni 2017 lalu. Meski selama ini makanan olahan ubi masih dianggap sebelah mata oleh penikmat kuliner usia muda, namun keduanya optimistis bisnis tersebut bisa berkembang. Sebab, ubi yang semula terkesan tradisional tersebut berhasil disulap menjadi bola ubi kopong yang lebih kekinian.

“Ide awal bikin Bobipong itu karena melihat tren yang ada di pasaran anak muda, khususnya di daerah Jakarta dan Bandung, terus kepikiran deh untuk mencoba usaha ini dan membukanya di Semarang. Karena di Semarang belum ada, makanya berani coba untuk membuka bisnis ini,” papar Ricky.

Saat ditanya modal awal usaha mereka dari mana, keduanya kompak menjawab, “Dari tabungan masing-masing.”

Setelah tabungan dikumpulkan, barulah mereka kembali ke kampung halaman untuk memberanikan diri membuka bisnis Bobipong.  Bisnisnya itu hanya buka setiap Jumat hingga Minggu malam di Pasar Semawis, kawasan Pecinan. Untuk pengelolaannya, karena Dendy dan Ricky kuliah di Jakarta, keduanya meminta bantuan kepada orang tua masing-masing untuk ikut mengelola bisnis ini saat mereka tidak sempat pulang ke Semarang.

“Tapi tetap kok, kita pasti sempatkan waktu untuk pulang ke Semarang demi maintain secara langsung usaha ini,” tambah Dendy.

Meski terbilang masih cukup baru di dunia kuliner Semarang, Ricky dan Dendy tetap optimistis untuk terus mengembangkan bisnisnya yang hingga kini per hari bisa meraup omzet sebesar Rp 1 juta.

“Ke depannya, kita ingin membuka beberapa stand lagi di daerah lain di Semarang. Selain itu juga membuka frenchise bagi yang berminat untuk menjalani usaha ini,” ujar Ricky.

Memanfaatkan kemajuan teknologi, promosi Bobipong gencar dilakukan melalui sosial media, khususnya Instagram.

“Iya, kalau promosi kami tetap mengandalkan apa yang dekat dengan anak muda, apalagi kalau bukan lewat Instagram. Terus sama promosi dari mulut ke mulut sih, dengan mengajak keluarga atau teman-teman dulu untuk mencicipi produk kami,” katanya.

Menurut keduanya, keunikan Bobipong dari jenis camilan lainnya terletak pada bentuknya yang sederhana, bulat meneyerupai tahu bulat, namun berbahan dasar ubi. Di tengah ramainya camilan-camilan saat ini yang berbahan dasar kentang ataupun martabak manis dengan topping aneka rasa, Bobipong hadir sebagai alternatif makanan olahan ubi yang simple, tidak repot untuk dimakan karena bisa sekali gigit, dan yang pasti, terasa nikmat di lidah dengan rasa manisnya.

Ditanya kiat usahanya hingga tetap bisa bertahan, Ricky menyebutkan yang penting tetap mempertahankan cita rasa agar tidak berubah dan disukai oleh customer.  (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.