Jadi Super Woman Demi Nafkahi Anak

290

Menyusuri Kampung Janda di Kelurahan Panjang Baru, Kota Pekalongan (2)

Ungkapan yang mengatakan surga terletak di bawah kaki ibu rasanya memang tepat jika kita melihat penderitaan sebagian besar wanita di Kampung Janda, Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Mereka para janda, setiap harinya harus bekerja lebih dari 13 jam sebagai buruh jemur ikan asin dengan upah Rp 12 ribu per harinya.

TAUFIK HIDAYAT, Pekalongan

Semua hanya demi mencukupi kebutuhan hidup anak-anaknya. Mereka tetap melakukan fungsi sebagai ibu dengan mengasuh dan mendidik. Namun di sisi lain, mereka juga pekerja profesional, dengan tidak meninggalkan tugasnya sebagai buruh, mulai dari buruh cuci pakaian, buruh jemur ikan asin, hingga buruh bersih-bersih rumah orang lain,
Hayati, 46, janda dengan 3 anak warga Kelurahan Panjang Baru RT 04 RW 09, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, sejak ditinggal mati suaminya, karena kecelakaan di laut harus bekerja ekstra keras, untuk mencukupi kebutuhan anaknya. Bekerja sebagai buruh jemur ikan asin dia geluti sejak 6 tahun yang lalu. ”Dulu setiap suami pulang dari nelayan, selalu bawa uang cukup banyak dan bisa untuk mencukupi kebutuhan makan selama 4 bulan. Sekarang saya harus bekerja setiap hari, untuk mendapatkan upah Rp 12 ribu per harinya,” ungkap Hayati.
Dirinya harus berangkat kerja pukul 06.00,serta pulang pukul 17.00 setiap harinya. Pertama yang dia lakukan, adalah memotong ikan yang baru ditangkap, kemudian dibersihkan, dicuci, lalu dijemur di bawah terik panas matahari. “Mulai dari proses potong ikan, hingga menjemur, dikerjakan bersama, dengan teman sesama janda satu kampung. Biasanya untuk satu area dikerjakan oleh 5 orang.” kata Hayati.
Meski upah yang diterimanya sangat kecil namun Hayati cukup senang. Karena lokasi tempatnya bekerja, tidak jauh dari rumahnya. Sehingga masih bisa mengawasi anak-anaknya, dan masih bisa memasak dengan lauk seadanya di rumah. ”Bagi saya yang penting ada beras, kalau untuk lauk, cukup dengan ikan asin atau sayuran seadanya, sudah cukup bagi saya,” terangnya.
Hayati juga bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan tersebut, karena sebagian tetangganya, yang berstatus janda bekerja sebagai buruh mencuci pakaian keliling dan ada juga yang sebagai pemulung dan pengemis. Menurutnya, rata-rata bekerja sebagai buruh jemur ikan asin. ”Yang lebih beruntung, saya masih bisa melihat jenazah suami saya ketika meninggal di laut. Karena rekan-rekannya membawa pulang, dan dimakamnya di pemakaman Panjang,” lanjutnya.
Sementara Nurida, 46, yang hidup satu rumah bersama Hayati bekerja sebagai buruh cuci pakaian di Kelurahan Panjang mengaku secara penghasilan lebih baik dari Hayati. Namun dia harus bekerja lebih keras agar dapat menyisihkan sedikit penghasilannya untuk membayar kontrakan rumah.
Menurutnya, upah yang diterima setiap harinya tidak tetap tergantung jasa baik pengguna jasanya. ”Kalau orangnya baik dan dermawan, ada yang ngasih Rp 50 ribu sekali mencuci pakaian, namun ada juga yang ngasih Rp 15 ribu,” jelas Nurida, yang sehari bekerja di 2 hingga 3 rumah.
Nurida juga mengatakan ditinggal pergi melaut oleh suaminya sejak tahun 2002 lalu, dan sejak itu tidak pernah mendengar lagi kabar keberadaan suaminya lagi. Menurutnya, Suwito nama suaminya, pergi melaut bersama suami Hayati namun beda kapal. ”Kata teman sesama melaut, suami saya mendapat kecelakaan karena ombak besar, dan kapalnya pecah. Namun hingga sekarang, saya belum pernah melihat jenazah suami, makanya saya tidak berani menikah lagi.” kata ibu dengan 2 anak tersebut.
Sementara itu, Ketua RT 04 RW 09 Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Kristina mengatakan dari 84 janda yang ada di RT 04 RW 09, sebagian besar dapat hidup secara mandiri, dengan bekerja seadanya, demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya. ”Sebagian besar bekerja di usaha pengeringan ikan asin, meski upahnya kecil, yang penting dekat dengan rumah, agar bisa tetap mengurusi rumahnya, dan anak-anaknya.” jelas Kristina.
Dia juga menandaskan sebagian besar dari para janda tersebut hidup serba kekurangan, penghasilannya hanya cukup untuk makan dan hidup. Sehingga tidak dapat menyekolahkan anaknya lebih dari pendidikan SMP. Menurutnya, setelah anaknya lulus sekolah SMP, maka akan bekerja membantu ibunya.”Yang membuat saya prihatin, justru warga miskin para janda tersebut, tidak pernah mendapatkan jatah beras miskin. Padahal bagi mereka, raskin sangat dibutuhkan, dan saya sudah mengusulkan namun belum mendapatkan respon dari Pemkot Pekalongan,” tandasnya. (thd/ric)