Gotong Jenazah

535

Anda pasti sudah melihat videonya. Yang viral itu.

Video itu beredar luas di media sosial, Minggu (25/8). Juga menjadi pemberitaan utama media massa.

Gara-gara peristiwa itu juga, Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah meminta maaf. Dia berjanji mengubah standar operasional prosedur (SOP) penggunaan ambulans di kotanya.

Memang miris melihatnya. Ketika melihat video itu. Yang mempertontonkan seorang pria menggotong jenazah anak kecil. Di gotong begitu saja keluar dari Puskesmas Cikokol. Tidak mendapatkan fasilitas ambulans.

Peristiwa itu bermula dari Husein (8), dan temannya Fitrah (12). Mereka tenggelam di Sungai Cisadane. Husein ditemukan Jumat (23/8/2019) sore. Fitrah baru ketemu malam harinya. Fitrah sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Husein dibawa ke puskesmas terdekat. Masih tampak bernafas saat ditemukan. Namun nyawanya tetap tak tertolong.

Supriyadi, paman Husein, lantas memohon kepada Puskesmas memberikan pinjaman ambulans. Namun ditolak. Alasannya:  ambulans di puskesmas itu hanya untuk mengantar pasien. Bukan jenazah. Begitulah bunyi SOP dari Dinas Kesehatan Tangerang.

Mendapat jawaban itu, Supriyadi lantas menggotong jenazah Husein berjalan kaki keluar puskesmas. Ia sempat berjalan menuju jembatan penyeberangan.

Langkahnya terhenti di dekat jembatan penyeberangan. Seorang pengendara mobil melihat peristiwa memilukan tersebut. Pengendara itu pun menawarkan tumpangan.

Peristiwa itu menuai pro dan kontra di kalangan netizen. Ada yang menyatakan petugas Puskesmas tak memiliki nurani. Tetapi ada juga yang mengatakan ambulans memang terikat SOP. Termasuk harus steril.

Pro dan kontra ini bisa ditengok di Instagram @infia_fact. Seperti disampaikan @unclecimbo. Mereka  menyatakan mobil ambulans memang tidak diperkenankan mengantar jenazah.

”Ada kesalah pahaman sih. Setahu saya, mobil ambulance itu memang  ada SOPnya. Ambulance untuk pasien gawat darurat. Yang harus butuh tindakan segera. Di dalam  ambulance banyak alat medis yang harus dalam kondisi steril. Ambulance beda dengan mobil jenazah. Untuk tiap-tiap daerah ada call center untuk penggunaan mobil jenazah secara gratis. Dalam hal ini Tangerang (kalau tidak salah) bisa ke-112. Semoga Bapaknya tabah, dan orang yg memberi tumpangan secara gratis dilimpahkan rezekinya, amin,” tulisnya.

Namun, ada juga yang menyatakan seharusnya ada pengecualian dalam peristiwa tersebut. Seperti dikatakan @ucuz.

”SOP memang harus dipatuhi untuk menjaga kita tetap sesuai prosedur dan aman. Tapi ada beberapa case yang memang seharusnya bisa sebagai pengecualian. Kita bukan robot kali yang sesuai tertulis di peraturan,” tulisnya.

Adanya peristiwa ini juga mengingatkan saya pada peristiwa yang mirip terjadi di Lampung. Dua tahun lalu.

Kala itu seorang ibu bernama Delvasari. Asal Kotabumi, Lampung Utara. Dengan berurai air mata sang ibu menggendong jenazah bayinya yang berusia satu bulan. Sang ibu membawa mayat anaknya naik angkot jurusan Tanjungkarang-Rajabasa. Yakni setelah gagal menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hi. Abdul Moeloek (RSUDAM).

Bayi itu meninggal dunia setelah menjalani operasi. Pihak keluarga sudah meminta ambulans untuk mengantarkan jenazah. Namun pihak rumah sakit tidak bersedia meminjamkan.

Delvasari diminta uang sebesar Rp 2 juta. Harus membayar. Sopir ambulans itu yang meminta. Agar bisa menggunakan jasa mobil ambulans rumah sakit.

Sang ibu tidak punya uang. Dia hanya memegang kartu BPJS. Dia pun terpaksa membawa jenazah bayinya dengan angkot.

Saya memperkirakan peristiwa serupa akan terus terjadi. Warga menggotong jenazah keluarganya dari tempat pelayanan kesehatan tanpa ambulans. Akan terus terjadi seperti itu.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memang tidak menanggung layanan ambulans untuk mengantar jenazah.

Itu diatur dalam Permenkes No.71/2013 tentang Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional. Pasal 29 mengatur, layanan ambulans hanya diberikan kepada pasien. Bukan untuk jenazah.

Inilah yang mestinya menjadi perhatian pemerintah daerah se-Indonesia. Agar menyediakan mobil gratis untuk pengantaran jenazah kepada warga. Yang ”On Call” 24 jam.

Orang kecil memang tidak cerewet. Tidak diberi ambulans ya digendong naik jembatan penyeberangan. Atau naik angkot yang murah.

Seperti itu. (wirahadikusumah)