Mati Darurat

112

Di mana-mana terjadi mati listrik. Di Amerika, Eropa, apalagi Indonesia. Penyebabnya yang berbeda. 

Persoalannya: Seberapa sering. 

Seberapa luas. 

Seberapa lama.

Ada kalanya sering mati lampu. Itu karena produksi listrik di suatu wilayah tidak cukup. Pembangkitnya kurang. Atau rusak.

Dulu di Jawa pernah seperti itu. Delapan tahun lalu. 

Listrik pun harus digilir. Lalu muncul istilah pemadaman bergilir. Sudah lama tidak kita dengar istilah pemadaman bergilir. 

Belakangan, produksi listrik sudah sangat cukup –di Jawa. Setidaknya. Jumlah pembangkitnya sudah banyak. Besar-besar pula. 

Kalau ada yang berkata terjadi kekurangan listrik berarti ada masalah di pembangkit.

Mungkin ada pembangkit yang rusak –misalnya kurang pemeliharaan.

Mungkin pasokan batu baranya bermasalah. Mungkin akibat pembayaran yang lambat –batu baranya atau angkutannya, atau dua-duanya. Atau putusan pemenang tendernya yang telat. 

Kesimpulannya: mati listrik akan tetap ada, tapi untuk di Jawa tidak akan sering. Dan tidak akan lama.

Mestinya. 

Tapi kenapa yang kemarin itu begitu lama?

Orang dalam tidak berani terus terang: itu ada hubungannya dengan misi penghematan. 

Skala prioritas PLN saat ini, saya dengar, adalah membuat laba.

Salahkan itu?

Saya tidak tahu.

Begini gambarannya. Anda sendiri yang nanti menyimpulkan –salah atau tidaknya. 

Di sekitar Jakarta ini sebenarnya sudah ada pembangkit ‘cadangan’. Banyak. Besar-besar. Menggunakan gas sebagai bahan bakarnya. Atau solar-diesel. Di Priok. Di Muara Karang. Di Banten. Juga Muara Tawar.