Demo Laser

69

“Apa yang akan terjadi berikutnya? Tidak tahu. Kita hanya bisa menunggu”.

Itulah pendapat umum di Hongkong sekarang.

Setelah demo tidak juga berhenti. Pun setelah lebih dua bulan.

Bahkan demo itu kian meningkat –jumlahnya, luasannya, dan kekerasannya.

Inilah daftar peningkatan itu:

– Awalnya demo damai. Menolak draft UU ekstradisi.

– Minggu kedua mulai bikin barikade dari pagar besi. Yang dicopot dari pinggir jalan raya.

– Pekan berikutnya lagi menjadi berani menduduki parlemen. Merusak kaca dan perabotan. Perbaikannya perlu enam bulan. Dengan dana Rp 70 miliar.

– Mulai berani mencoreng lambang negara di kantor perwakilan Tiongkok.

– Lain minggu lagi lebih berani lagi: menduduki kantor polisi.

– Peralatan yang digunakan pun kian bervariasi. Ada saja kreativitas baru. Dari hari ke hari. Awalnya menggunakan ujung payung. Lalu bata, batu. Berikutnya ketapel. Lalu botol berisi minyak. Dan terakhir ini laser pointer. Untuk mata polisi.

– Masih lebih meningkat lagi: berani membuang bendera Tiongkok ke laut dekat Victoria.

Dari pihak pemerintah juga tidak mau mundur:

– Tidak mau mencabut draft. Hanya mau membekukan dan menyatakan draft itu telah mati.

– Menyatakan demo itu perusuh.

– Menyatakan yang demo itu pengangguran. 

– Menyatakan demo sudah mengancam kedaulatan negara.

– Demo itu dicampuri asing –Amerika dan Taiwan– dan kelompok yang ingin Hongkong merdeka.

– Tidak mau memenuhi tuntutan pendemo berikutnya: bebaskan semua pendemo yang ditahan, bentuk tim independen untuk kekerasan selama demo, ubah sistem pemilu.