Tidak Tuntas

92

Inilah ngaji yang tidak tuntas. Belajar baru sepenggal. Lalu penasaran. Tapi sang guru telah wafat — Kyai Haji Maimoen Zubair. Selasa 6 Agustus lalu. Di usia 90 tahun. Di tempat yang diimpikan banyak orang Islam: Makkah Al-Mukarromah.

Keyakinan saya salah. Saya pikir beliau akan bisa mencapai usia 100 tahun. Terlihat dari kesegaran beliau saat sudah berusia 88 tahun. Saat saya sowan ke rumah beliau. Untuk minta berkah. Sekaligus ngaji. Ketika pagi masih gelap. Di kompleks Pondok Sarang. Di Rembang — tidak jauh dari perbatasan Jateng-Jatim.

Saya terus ingin bertemu beliau lagi. Ada pelajaran yang belum selesai. Pelajaran pagi itu. Baru setengah jam. Tapi akan saya ingat seumur hidup.

Kata beliau: hukum Islam itu terus berkembang — setiap seratus tahun. Di awal perkembangan Islam dulu.

Seratus tahun pertama, kata beliau, sumber hukum Islam itu hanya Alquran.

Seratus tahun kedua, baru bertambah: hadis. Yakni ucapan dan perilaku Nabi Muhammad SAW.

Seratus tahun ketiga, bertambah satu lagi: ijma’ ulama. Yakni kesepakatan para ulama. 

Seratus tahun keempat, sumber hukum Islam berkembang lagi. Bertambah satu: qiyash. Yang kini sudah di-Indonesia-kan menjadi kias. Yakni menetapkan hukum baru, yang belum ada sebelumnya, berdasar persamaan masalah, latar belakang, manfaat dan akibatnya.

Beliau memberikan contoh satu persatu. Di tiap perkembangan itu. Dengan suara yang tegas. Dengan mimik yang tegar. Dengan alis mata yang naik-turun — alis mata yang tebal dan panjang memutih itu.