Kashmir Mikir

108

Pikiran saya melayang jauh. Setiap menjelang Idul Adha seperti ini. Ke negeri yang kini lagi bergeser: India. 

Di sana kerukunan beragama selalu tergores. Di sekitar Idul Adha. Begitu krusialnya.

Yang satu kelompok merasa bahagia. Bila bisa menyembelih sapi.

Yang satu kelompok lagi merasa tersinggung. Bila ada sapi disembelih. 

Saya tidak pernah menemukan gagasan bagus. Atau pemikiran baru. Khususnya bagaimana cara menyelesaikan masalah itu. 

Orang Islam sangat minoritas di India. Sejak Pakistan menjadi negara terpisah dari India. 

Meski minoritas, ajaran agama harus dipraktikkan. Termasuk menyembelih sapi. Untuk ibadah kurban. Atau kambing. Atau onta. 

Penganut Hindu, di India, mayoritas mutlak. Pun secara politik. Lagi berkuasa. Menguasai parlemen. Dan pemerintahan. 

Mereka selalu mempertanyakan: mengapa Tuhan mereka disembelih. Sapi adalah kendaraan Tuhan umat Hindu. Yang sudah dianggap menyatu dengan Tuhan. Sampai ada hari raya sapi. Tiap bulan April. Tanggal 13.

Ok. Kalau penyembelihan itu dilakukan di negara lain. Yang umat Hindunya minoritas. Tapi ini terjadi di India. 

Maka begitu banyak konflik di sana. Yang latar belakangnya soal penyembelihan sapi ini.

Rasanya inilah problem antar agama yang paling pelik. Tidak ada yang lebih pelik dari itu. Islam dan babi, misalnya. Bisa diatasi. 

Misalnya yang makan babi tinggal di negara yang mayoritas Islam. Ia tetap bisa makan babi. Tanpa menyakitkan yang mengharamkannya. Makan babinya bisa diam-diam. Di dalam rumah masing-masing.