Jumat Muda 

356

Minggu besok demo besar-besaran lagi di Hongkong. Demo hari ke-37. Masih topik yang sama: agar RUU ekstradisi dicabut.

Saya pun tiba di Tiongkok lagi. Dari Amerika. Tidak mampir Hongkong. 

Kemarin saya salat Jumat di Kota Hangzhou. Di masjid besar. Dan megah. Yang baru selesai dibangun tiga tahun lalu. Menggantikan masjid lama yang kecil. Yang kalau Jumat mengganggu lalu-lintas. Meluber ke jalan raya. 

Pemerintah Tiongkok membangunkan masjid baru itu. Tiga lantai. Di pusat kota. Dengan arsitektur seperti masjid di Indonesia. Ini agak aneh. Di wilayah Tiongkok Barat pemerintah lagi sewot. Mengapa masjid-masjid menggunakan arsitektur Arab. Kurang mengedepankan arsitektur lokal. Sampai ada masjid yang harus dibongkar. Dianggap terlalu ke-Arab-araban. Diganti dengan arsitektur lokal. Seperti masjid tua di Beijing. Atau seperti Masjid Chengho di Surabaya.

Di Hangzhou ini pun saya melihat perkembangan baru: banyak anak muda ke masjid. Seperti juga yang saya lihat di Masjid Ningxia. Atau di Qinghai. Atau di Gansu. 

Beda dengan 15 atau 20 tahun lalu. Yang masjid hanya diisi orang-orang tua.

Sudah lebih sebulan saya selalu salat Jumat dengan orang kulit hitam. Di berbagai belahan Amerika Serikat. Hanya sekali saya melihat orang kulit putih. Saat salat Jumat di Masjid Fargo, North Dakota. Yang 90 persen jamaahnya orang asal Somalia. Saya dekati yang kulit putih itu. Setelah selesai salat Jumat. 

“Asli Amerika?” tanya saya.

“Bosnia,” jawabnya.

Beda dengan di Hangzhou ini. Hanya beberapa wajah Arab atau Pakistan yang terlihat. Yang 90 persen orang asli Tiongkok. Umumnya Suku Hui. Yang kebanyakan memakai topi putih itu.